• Ari dan rayuan gombalnya

    Ari:

    “Malaysians love mee curry. It’s like Indian boyfriend to Chinese girlfriend. I’m the curry to your noodles, so we can have mee curry.”

    Saya:

    “… Rasanya pengen ketemu Nabi Adam lalu bilang ke dia, “you spend, like, some years in heaven. Plis lah belajar pick-up lines yang lebih mendingan selama di surga sebelum ditendang ke bumi. Your sons need that. A lot.””

  • Wira dan “Brod”

    Satu hari saya lagi ngelipet baju dan Wira lagi main sendiri. Anaknya lagi berkhayal pura-pura jadi bajak laut (abis nonton Disney Junior ‘Jake and the Neverland Pirates‘). Jadi dia lagi loncat sana, loncat sini, lari sana, lari sini, sambil ngoceh macem “aye aye, captain!”, “this is emergency!”, “look alive, matey!”, “it’s a treasure box!” dan semacemnya.

    Di deket saya, ada tumpukan baju bersih lagi mau dilipet. Anaknya langsung lompat dari sofa sambil nunjuk-nunjuk ke tumpukan baju.

    Wira : “LOOK! A BROD! A BROD!”

    Saya : *ngebatin “… ‘Brod’ itu apasi… Tapi mungkin bahasa anak-anak kali ya” tapi tetep diem aja sambil ngelipet baju*

    Wira : *masih nunjuk tumpukan baju* “LOOK, IBU! A BROD!”

    Saya : *ngeliat Wira dengan tampang bingung* “… ‘Brod’ itu apa sih?”

    Wira : *diem bentar* “… … LOOK, IBU! IT’S A BATU!”

    Saya : “Owalah… A ROCK. Batu itu ‘rock’!”

    Wira : “Rock?”

    Saya : “Rock.”

    Wira : “LOOK, IBU! A… … … …” *ngeliat saya dengan pandangan bingung dan sambil nyengir*

    Saya : “Rock.”

    Wira : “– ROCK!”

    Lalu anaknya lari-lari lagi main lagi.

  • Cerita Horor Kapkap

    Di grup WA pada cerita horor, terus ada yang bilang, “gw suka ngerasa gw itu ga “peka”, tapi ternyata gw sering kesurupan…”

    Saya jadi inget kejadian pas masih kuliah.

    Saya sendiri juga ngerasa bukan orang yang peka sama gaib-gaiban gitu. Malah kadang saya jatuhnya ke “ah, apaan sih…” (Tapi njuk tetep penakut. Paling ga berani nonton film horor.)

    Jadi pas kuliah, saya itu sekelas sama Bambang ‘Samsons’ itu. Si Bams. Pas itu ya dia belum beken.

    Dan iya, dia ini emang tajir melintir. Rumahnya itu dua. Maksudnya dua itu… Jadi gini. Ada pintu gerbang, yes? Terus ada pagar tinggi, yes? Nah, di balik pagar tinggi itu ada dua rumah guede banget. Kata Bambang, itu satu rumah ditinggalin dia sama adeknya dan neneknya. Satu lagi ditinggalin sama ortunya. Jadi kalo rakyat jelata macem kita nanya, “eh, adek di mana?” Jawabannya, “oh, di kamar sebelah…” Dia itu mungkin macem, “eh, adek di mana?” Jawabannya, “oh, tuh di rumah sebelah.” Antara dua rumah itu dipisahin kolam renang. Aslik. Gede.

    Satu hari, beberapa dari kita mampir ke rumahnya Bams ini buat ngerjain kerja kelompok. Jadi Bams ini… Dia tau dia kaya, tapi ga jadi anak kaya yang sengklek gimana gitu. Rendah hatinya luar biasa. Satu hari dia pernah ngomong ke saya, “Ret, kalo anak-anak kelompok butuh apa-apa tinggal bilang ke gw. Gw bukan yang pinter banget kaya yang lain, jadi gw ga bisa bantu kecuali dikit-dikit macem ngetik atau nyediain tempat buat ngumpul…” Yang abis dia ngomong itu ditempeleng rame-rame sama anak-anak sekelas sambil dikata-katain “cumi” dan “setan alas” dan “lu ngomong lu ga pinter lagi gw tonjok mata lu.”

    Jadiiii, sebenernya beberapa anak udah tau ya rumah Bams ini katanya ada hantunya. Bams dengan santenya ngomong, “iya. Ada sekeluarga kok di sini.” Saya sempet pasang muka ? karena ya males yaaaa kalo ampe beneran ada. Tapi pas itu saya mikirnya, “ah, gw ga mungkin kenapa-kenapa lah. Gw badak gini.

    Ternyata ga juga.

    Kejadian pertama, TV nyala mendadak padahal remote TV ga ada yang sentuh. Saya yang lagi duduk deket TV sampe kaget. Ga lama, channel TV pindah sendiri. Remote TV tetep ga kesentuh.

    “Eh, siapa itu yang ganti channel TV?”

    “Bukan siapa-siapa, Nin. Paling yang nungguin.”

    “… What. Gimana.”

    “Iya. Biasa kok. Dia mah caper. Kalo ada anak-anak main ke sini, dia suka caper.”

    ?

    Ngik.

    Kejadian kedua.

    Di ruang makan.

    Jadi mbaknya Bams ini kata anak-anak jago banget masak nasi goreng sama mie goreng. Enak banget katanya. Entah beneran enak atau enak karena makan gratis. Saya curiga dua-duanya. Nah, kalo pada ngumpul-ngumpul, biasanya dimasakin nasi goreng.

    Jadi lah kita berenam pada di ruang makan ya, ngambil kursi buat duduk.

    Kecuali saya.

    Saya berdiri, karena saya yakin banget kalo di ruangan itu ada tujuh orang termasuk saya. Dan nggak, mbaknya Bams ga keitung karena dia lagi di dapur.

    Setiap mau duduk makan, saya selalu mastiin jumlah orang di ruangan jadi kalo ada kekurangan kursi, saya bisa antisipasi minta kursi duluan.

    Nah, pas itu saya yakin banget ada tujuh orang di ruangan itu. Semuanya temen-temen saya dan saya.

    Lalu salah satu temen saya nepok saya.

    “Nin, duduk gih! Kok berdiri aja?”

    “… Hah? Lho, ada kursi ya?”

    “Lho, ada! Kan kursinya ada enam.”

    “Lho, kok tadi gw liatnya kita bertujuh ya.”

    “Masa sih? Dari tadi ya cuma kita yang ada di sini.”

    “Ih bener, serius, makanya gw berdiri dari tadi. Gw ngitung ada tujuh orang di sini, makanya gw tadi niatnya mau minjem kursi ke belakang.”

    Bambang, dengan santainya, ngomong, “oooh, iya. Suka gitu kok. Ada yang suka didobelin. Tadi yang lu liat beberapa kali itu siapa? Biasanya sih si Kere.”

    What. The. Hell.

    Saya bilang ke Bambang kalo lain kali kerja kelompok di rumah dia, tolong lain kali saya dikasih tau yang sering kejadian gaib di rumah dia itu apa aja ?

  • ‘The Good Dinosaur’ (2015)

    Oke, sekarang ini nulis lagi soal film yang baru minggu lalu saya tonton: Disney/Pixar ‘The Good Dinosaur’.

    Dibandingkan dengan ‘Inside Out’, promosi ‘The Good Dinosaur’ ini entah gimana rasanya kurang… Ramai. Ini dibandingkan dengan ‘Inside Out’ yang notabene sama-sama dari Disney/Pixar ya. Kabarnya nggak lama lagi Disney juga akan rilis film animasi terbaru mereka, ‘Zootopia’ — dan film ‘Zootopia’ ini juga promosinya nggak terlalu heboh.

    Saya curiganya karena mayoritas slot promosi dihabiskan untuk ‘Star Wars VII: The Force Awakens’. Hmmm.

    Tapi ini bener lho. Rasanya sekarang itu dimana-mana Star Wars. Toys R’ Us sampe berapa kali rilis mainan baru Star Wars VII. Dimulai dari rilis figurine dari trilogi sebelumnya, sekarang udah mulai bermunculan figurine dan droid untuk Star Wars VII ini. Kosmetik Covergirl aja sampe ada seri khusus Star Wars dan salah satu pengrajin logam dan perak Malaysia, Royal Selangor, juga bikin seri khusus Star Wars — termasuk Han Solo yang dibekukan dalam carbonite (pewter, kalo bikinannnya Royal Selangor) ukuran life-size (yang sayang sekali nggak dijual. Karena kalo iya, itu bakalan saya jadiin pintu apartemen.)

    Oke, balik ke film ‘The Good Dinosaur’.

    Sebelum menonton, saya sempet ngeliat beberapa komentar temen-temen saya yang sudah menonton (tanggal tayang film di Indonesia lebih cepat tiga hari dari Malaysia) dan rata-rata mereka bilang bahwa filmnya ini… Nggak memenuhi standar Pixar. Nggak cuma mereka, bahkan kritikus film profesional juga berkomentar hal yang sama di Rotten Tomatoes. Jadi dengan berbekal rasa penasaran sekaligus “nggak berani berharap terlalu banyak juga”, saya menonton ‘The Good Dinosaur’ bersama Ari dan Wira hari Sabtu lalu.

    Seperti halnya film Pixar, biasanya dimulai dengan film pendek/short. Untuk ‘The Good Dinosaur’, film pendeknya adalah ‘Sanjay’s Super Team’; dan berikut adalah komentar saya.

    Sanjay’s Super Team (2015):

    Berita mengenai film pendek ini bikin saya heboh; lebih heboh daripada ‘The Good Dinosaur’ itu sendiri malah. Kenapa? Karakter utama, alur cerita, dan sutradaranya adalah orang Amerika-India. POC. People of colors. Dianggap ‘minoritas’ dan ‘kelas dua’ di industri hiburan Hollywood yang notabene dikuasai kulit putih/kaukasian. Lihat film-film beken dari Hollywood, karakter POC biasanya ditampilkan secara stereotipikal: geek/kutu buku/tukang lawak/agak bodoh/mati duluan/pilih pilihanmu. Jarang ada film atau karya yang menampilkan POC sebagai… Mereka. Sebagai individu yang penuh dengan latar belakang budaya yang juga sama kayanya. Bahasa kerennya di industri: Whitewashing.

    Sanjay’s Super Team ini diangkat dari “based on — mostly — true story“. Pengalaman pribadi si sutradara, Sanjay Patel, saat dia masih kecil dan menonton film-film superhero sementara ayahnya berdoa.

    Reaksi saya selama menonton? MENANGIS HABIS-HABISAN. Ya saya terharu dengan fakta bahwa kebudayaan India yang dianggap “minoritas” di Amerika ditampilkan dengan sebegitu indahnya dan megahnya di layar bioskop oleh studio animasi besar seperti Disney/Pixar, ya saya terharu melihat bagaimana karakter Sanjay kecil di film itu merangkul budayanya yang beragama Hindu dan menjadikan para dewa dan dewi Hindu — Wisnu, Durga, dan Hanuman — itu nggak kalah keren (malah lebih keren!) daripada superhero-superhero modern di media massa.

    Penilaian pribadi: 5/5

    The Good Dinosaur (2015):

    Nah…

    Ini…

    Jadi…

    Euh. Gimana ya.

    Jadi ketika saya selesai menonton, saya mengerti kenapa banyak orang berkata bahwa film ini belum memenuhi standar Disney/Pixar. Karena memang begitu.

    Saya tetep ingin memberikan penghargaan penuh kepada Peter Sohn, sutradara dari film ini. Terutamanya karena dia ini nama “baru” di deretan portfolio Disney/Pixar yang penuh dengan nama-nama seperti John Lasseter, Andrew Stanton, Pete Docter, dan Lee Unkrich — semacam The Four Musketeers-nya Disney/Pixar. Memegang kepercayaan untuk membuat full-featured film itu nggak mudah, apalagi dari studio seperti Disney/Pixar, jadi Peter Sohn untuk paling tidak memegang “keajaiban” dari Pixar di film itu sendiri patut dipuji.

    Nilai plusnya dulu ya.

    Animasinya. YA TUHAN, ANIMASINYA. Beberapa kali saya terkaget-kaget di kursi bioskop saat melihat shot daun diterpa sinar matahari dan tetes air dengan cantiknya dan saya berteriak dalam hati, “ASTAGA, ITU DIGITAL? BUKAN BENERAN?” Luar biasa kualitas animasinya. Begitu detail dan cantik sekali.

    Untuk karakter, saya sangat menyukai Spot; si anak manusia yang kelakuannya seperti anjing serigala. Saya jadi berpikir, mungkin kalo memang dinosaurus nggak punah karena meteor, dinosaurus akan sedikit lebih maju peradabannya kali ya, hahaha.

    Kalo ditanya apakah saya nangis atau nggak, nah itu saya nangis sesenggukan berkali-kali (agak bingung juga karena ada yang bilang, “gw sih nggak nangis, tapi emang filmnya itu bikin perasaan hangat” — mungkin saya yang emang kelewat cengeng ya, hahaha) Ketika Spot “mengajarkan” ke Arlo, si dinosaurus, cara menghadapi rasa kehilangan orang yang disayang dengan menepuk tanah dan melolong, buat saya itu indah sekaligus mengharukan luar biasa. Ada saat ketika kita memang harus menerima kehilangan, dan menangis itu salah satu caranya untuk membuat kita lebih tabah dan lebih kuat.

    Saya juga suka sisi liar dari film ini, seperti Spot yang terang-terangan menarik kepala kumbang raksasa sampe putus — terlepas kemungkinan anak-anak yang menonton bisa terkaget-kaget atau malah trauma, hahah — atau Spot yang mengunyah kumbang. Ada juga satu adegan psychedelic ketika Arlo dan Spot nggak sengaja makan buah busuk yang mengakibatkan mereka berhalusinasi. Untuk saya, ini seperti cara Pixar bercanda dengan dua tipe manusia: Anak-anak dan dewasa. Anak-anak tertawa terbahak-bahak saat adegan halusinasi karena Arlo dan Spot berubah bentuk secara fisik (kepala jadi gede, mata jadi gede, macem-macem) sementara orang dewasa tertawa terbahak-bahak karena mereka tahu betul maksudnya halusinasi/under influence/drugged itu apa.

    Nah, kekurangannya film ini adalah alur cerita. Sebenernya alurnya sederhana: Seekor dinosaurus dan seorang anak manusia berpetualang dan menjadi dewasa dalam prosesnya/coming of age. Film-film Pixar juga sebenernya alurnya sederhana; salah satu favorit saya, Wall-E, alurnya itu hanya sebuah robot yang kesepian dan mati-matian menyusul temannya ke stasiun luar angkasa (kalo ga salah Andrew Stanton, sutradaranya Wall-E, bilang bahwa film Wall-E itu, “kisah cinta antara dua robot”.)

    Tapi untuk ‘The Good Dinosaur’ ini… Gimana ya. Alurnya sedikit berantakan seperti Disney/Pixar ‘Brave’. Yang ditanyakan itu: “Jadi ini inti filmnya apa? Keberanian? Keluarga?” Bisa sih dapet dua-duanya (seperti ‘Wall-E’, ada satu pesan lagi di film itu: Lingkungan hidup) tapi nggak ada satu alur jelas yang menceritakan ‘The Good Dinosaur’ ini tentang apa.

    Ada juga yang saya sayangkan: Karakter sampingan yang nggak dikembangkan. Ada karakter yang saya cukup suka: Forrest Woodbush (seekor styracosaurus) — agak-agak neurotik dan posesif. Tapi karakter itu hanya “selewat pandang” alias hanya sebentar saja muncul lalu setelah itu hilang. Di sini saya merasa film ini malah condong ke mantra usang Dreamworks (yang saya yakin juga sudah mulai ditinggalkan oleh studio Dreamworks) yaitu karakter lucu-lucuan yang sebenernya nggak terlalu penting. Misalnya, Scrat dari ‘Ice Age’. Apakah Scrat itu berperan penting dalam plot keseluruhan? Nggak sama sekali. Dia hanya karakter lucu — yang SANGAT menjual. Makanya Scrat ada di trilogi ‘Ice Age’. Stunt seperti itu sebenernya kurang efektif dalam ngebangun cerita — dan membangun cerita adalah salah satu poin plus Disney/Pixar. Dreamworks sendiri sudah mulai tancap gas dengan membangun cerita yang makin baik dan kompleks dengan ‘How To Train Your Dragon’. Nah, di sini rasa-rasanya kok Disney/Pixar yang malah keteteran.

    Untuk saya, ‘The Good Dinosaur’ ini menghibur. Cocok untuk anak-anak karena beberapa humornya slapstick, tapi jangan berharap terlalu jauh untuk adegan yang menarik-narik perasaan dan tisu seperti 10 menit pertama film ‘Up’ atau 10 menit terakhir ‘Toy Story 3’. Belum ada adegan yang membuat rasanya ingin ikut berteriak memberi semangat seperti adegan segerombolan ikan grouper dan Dory yang berusaha membebaskan diri dari jaring sambil berteriak “JUST. KEEP. SWIMMING! KEEP SWIMMING! KEEP SWIMMING!” di ‘Finding Nemo’. Belum ada adegan yang membuat penonton bernafas lega setelah bermenit-menit menahan nafas ketika akhirnya kapten Axiom, McCrea, memencet tombol manual AUTO sambil berseru, “AUTO! You are relieved of duty…” di ‘Wall-E’.

    Tetapi, ‘The Good Dinosaur’ mengajarkan saya pentingnya menerima kehilangan dan menghadapi rasa takut. Semua itu dalam keajaiban animasi yang luar biasa cantik. Tetap sebuah pembelajaran yang sangat indah.

    Saya berharap semoga Peter Sohn tetap membuat karya yang cantik dan indah berikutnya.

    Penilaian pribadi: 4/5

  • Memberikan Berlian

    Akhir-akhir ini di timeline social media — kalo buat saya, di Facebook. Soalnya saya udah ga nongkrong di Twitter lagi — sedang rame kejadian taman bunga amaryllis di gunung Kidul yang diinjak-injak oleh pengunjung taman.

    Jadi kronologisnya begini:

    Beberapa minggu lalu, ada foto yang menyebar di lingkungan socmed Indonesia mengenai taman bunga amaryllis di gunung Kidul yang katanya “nggak kalah dengan taman bunga di Eropa”. Selama ini asosiasi gunung Kidul itu gersang atau biasa-biasa aja, sehingga pemandangan taman bunga seperti itu tentu saja menarik minat calon pengunjung.

    Dan benar lah, taman bunga itu langsung mendapat sorotan publik. Tentu saja tempat itu langsung didatangi banyak pengunjung, terutama anak-anak remaja/ABG yang ingin mengambil foto selfie ataupun pemandangan bunga yang cantik-cantik itu.

    Masalahnya, pengunjung itu nggak hanya sekedar mengunjungi dan berfoto. Mereka juga merusak; entah sadar atau nggak. Deretan bunga-bunga itu ya diinjek-injek dan didudukin gitu aja. Entah kenapa dan entah maksudnya apa. Keadaan taman yang kacau balau begitu tentu saja langsung difoto dan diunggah ke socmed — dan langsung heboh lah publik.

    Hujatan langsung turun macam hujan di bulan November-Desember. Foto-foto ABG-ABG itu dipajang jelas beserta akun socmed mereka (Instagram). Banyak yang mencaci, apalagi yang memaki.

    Para ABG itu, nggak mau kalah, balas mencaci maki. “Urusan gue dong! Lu ngurus diri sendiri aja belum bisa, udah ngurusin bunga!” dan segala macemnya. Publik tambah mengamuk. Apa ini, anak-anak masih ingusan dikasih tau yang bener malah pecicilan dan ngelawan! Saru sama orang tua! Hajar balik! Langsung terpampang nama lengkap para ABG tersebut beserta alamat rumah dan alamat sekolah. Foto-foto para ABG itu tanpa malu-malu disebar, dengan muka terlihat jelas.

    Sementara itu, saya bingung. Makanya saya nggak mau bereaksi ataupun berkomentar apapun mengenai kebun bunga amaryllis itu di Facebook saya.

    Why you should think twice before shaming anyone on social media“, kata WIRED.

    When the website Jezebel cataloged a series of racist tweets by high school students about President Obama, it not only published their names but also called their high schools and notified the principals about their tweets. In some cases, Jezebel listed the hobbies and activities of the students, essentially “SEO-shaming” them to potential colleges. Most of the kids have since deleted their Twitter accounts, but search any of their names on Google and you’ll likely find references to their racist tweets within the first few results.

    Yes, what these kids wrote was reprehensible. But does a 16-year-old making crude comments to his friends deserve to be pilloried with a doggedness we typically reserve for politicians and public figures — or, at the very least, for adults?

    We despise racism and sexism because they bully the less powerful, but at what point do the shamers become the bullies? After all, the hallmark of bullying isn’t just being mean. It also involves a power differential: The bully is the one who’s punching down.

    Satu sisi, jujur saya sebal dengan para ABG-ABG itu yang seenaknya merusak kebun bunga milik orang lain — dan mereka bahkan sama sekali nggak meminta maaf ataupun merasa bersalah! Saya ingin sekali rasanya ikut menghujat dan menghina mereka, biar mereka tau kalo apa yang mereka lakukan itu salah. Supaya mereka lain kali mikir pake otak. Supaya mereka lain kali nggak melakukan hal yang sama.

    Tapi di sisi lain… Apakah itu langkah yang tepat? Apakah itu artinya saya juga jadi tukang bully? Apalagi dengan menyebar data pribadi para ABG itu. Apakah itu suatu perlawanan yang adil; saya, anonim di balik layar dengan data pribadi yang saya bisa kontrol sepenuhnya, dengan para ABG itu, yang data pribadinya sudah tersebar ke publik tanpa seijin mereka?

    Temen saya, Popon, komentar, bahwa dia setuju dengan kritik publik ke para ABG-ABG itu. “Supaya mereka tau kalo mereka salah, Kap. Ya gimana, masih banyak orang Indonesia yang kalo dikasihtau malah ngeyel. Nggak bisa diomongin baik-baik. Masih harus dikerasi.” Tetapi, dia menambahkan, sebaiknya identitas si ABG itu dijaga. “Minimal muka di-blur atau bagian mata dikasih blok hitam lah,” kata Popon lagi. “Dan jangan maki-maki nggak nggenah dan nggak puguh gitu lah…”

    Dan “tugas” menjaga data pribadi orang itu, percaya atau ga percaya, jatuh di tangan kita yang notabene orang asing.

    Saya pernah baca komik Islami karya mas VBI Djenggoten, bahwa menasehati secara kasar itu ibarat melempar berlian ke kepala orang lain. Iya sih, yang dilempar itu bagus, berlian. Tapi ya ngasihnya dilempar, kena kepala orang pula, kan sakit. Orang ngerasa sakit duluan, dan nggak bisa menghargai berlian yang dilempar.

    Mungkin ya itu yang selama ini kita lakukan. Ngelempar berlian. Kena iya, bikin marah iya, bikin seneng mah nggak.

    Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling mencurangi, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lainnya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara!

    Seorang muslim adalah bersaudara, janganlah mendhaliminya, merendahkannya dan janganlah mengejeknya! Takwa ada di sini –beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukup dikatakan jelek seorang muslim, jika ia menghinakan saudaranya muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya. (HR. Muslim)

    Jadi ya… Mungkin memang masih dibutuhkan kritik publik ke beberapa individu yang melakukan kesalahan karena, kasarnya, “kalo nggak digituin, nggak bakal kapok.” Semacam hukuman massal, apalagi Indonesia itu negara yang rakyatnya sangat komunal (apa ya itu… Ikatan lingkungannya erat gitu lah.) Tapi balik ke massa — yaitu diri kita — sendiri yang ngejaga ucapan dan tindakan yang akan kita berikan ke orang yang sebenernya pengen kita nasihati.

    Ya prinsipnya seperti itu: Enakan mana, ngelempar berlian sehingga kena kepala orang sampe berdarah atau ngasih berlian dengan baik dan penuh senyum?

  • I rarely saved post drafts when writing a blog post because I usually able to ramble in a short period of time, until today, I decided to write about how I designed this blog (sidebar, cute background, pixel-thingy, and the likes.) Suffice to say, it’s, uh, long. My dormant Happiness Engineer-soul came back in full force, hahahah!

    I’m still working on it. Hopefully, I can publish it by this evening (Malaysia timezone).

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer