• Ramadan #14


    Yah, kemarin kelupaan (lagi) nulis blog.

    Jadi beberapa hari ini emang kondisi badan lagi kurang sehat. Dan cuaca lagi kurang baik (panas dan lembab, plus kabut asap.) Wira sudah mulai menunjukkan gejala bakal sakit dengan cara… Banyak makan ?

    Sambil ngisi waktu, saya nonton film di laptop — ibaratnya, “mengejar” ketertinggalan film karena sejak Wira lahir, saya dan Ari jadi jarang banget nonton film, hahaha. Bukan masalah besar juga sih, tapi emang ada beberapa film yang saya penasaran ingin tonton dan akhirnya kesampaian juga.

    Kemarin saya menonton ‘The Tale of The Princess Kaguya‘ (Kaguya-hime no Monogotari) karya studio Ghibli dan memang film itu luar biasa — baik dari segi animasi, cerita, dan karakter. Untuk alur utama memang sudah ada dari legenda putri Kaguya itu sendiri, namun untuk karakter sang putri bener-bener hal yang menyegarkan dan baru. Satu hal yang saya sangat suka dari studio Ghibli adalah pembentukan karakter utama mereka yang rata-rata wanita. Semua karakter kuat yang mempunyai kepribadian yang sangat manusiawi — bandingkan dengan rata-rata film Hollywood yang menggunakan karakter perempuan hanya sebagai pajangan atau pemanis layar.

    Dalam film tersebut digambarkan dengan jelas bagaimana banyak laki-laki yang melamar Kaguya namun hanya melihat dia sebagai “harta karun” atau pajangan. “Menikahlah denganku, karena kebahagiaanmu adalah menikahiku!” Eh, sori ye, tau apa soal kebahagiaan seseorang?

    Dan jujur aja, hal itu bahkan masih banyak kok di pemikiran laki-laki yang menganggap perempuan adalah benda mati. Ada satu adegan yang menurut saya sangat menarik. Sang kaisar, menyadari bahwa Kaguya menolak lima bangsawan yang melamar, berkomentar, “Kaguya ini menarik. Dia menolak lima laki-laki berpengaruh. Artinya dia pasti ingin bertemu denganku.”

    Nah, kenapa menarik?

    Karena ada berapa banyak laki-laki di dunia nyata ini yang berpikiran seperti itu? Ada lho. Banyak pula. Ada berapa banyak laki-laki di dunia ini yang berpikiran bahwa wanita berhutang kepadanya dan wanita harus menyukai dia? Ada berapa banyak film dan lagu yang dibuat seolah-olah kalo si wanita itu tidak menyukai si pria, si wanita dianggap tidak tahu berterimakasih dan tidak menghargai si pria? Bukannya itu berarti si pria sama saja seperti anak balita yang tantrum kalo keinginannya ga dipenuhi? Are we raising gentlemen or little bratty boys?

    Ghibli menantang pemikiran yang seksis dan diskriminatif seperti itu. Dan karakter laki-laki protagonis di film Ghibli juga nggak kalah kuatnya. Mereka laki-laki yang mengerti kehormatan diri dan menjaga sesama. “Saya menolong kamu bukan supaya kamu suka sama saya. Saya menolong kamu karena itu yang manusia seharusnya lakukan satu sama lain.”

    Karena kita manusia.

  • Ramadan #13


    Ramadan Insya Allah sudah hampir setengah jalan, dan kalo dipikir-pikir… Ramadan tahun ini rasanya banyak sekali momen saya mengomeli diri sendiri.

    “Astaga, gitu aja udah ngeluh? Lu manusia bukan sih, Nin?”

    “Nah kan, pundung lagi kan. Marah-marah dalam hati lagi kan… Ramadannya sia-sia lho.”

    “Kerjaan lu sekarang itu cuma vacuum karpet dan lantai rumah. DI DALAM RUMAH. Terus masih menggerutu juga? Apa kabar orang-orang yang kerja jadi kuli angkut di pasar siang-siang bolong gini dan BERPUASA?”

    Lalu saya jadi jengkel sendiri kenapa saya jengkel ? *absurd*

    Dan mungkin bisa dibilang terlambat, karena saya baru lebih “tenang” akhir-akhir ini. Sudah mulai ngeh kalo rasa suntuk sore-sore itu sebenernya karena lapar dan haus. Toh setelah buka puasa/iftar juga mood saya membaik ?

    Dan sebenernya soal mood itu emang balik ke diri sendiri, dan bisa diatur: mau pundung seharian atau milih berpikiran lebih tenang?

  • Ramadan #12


    Jadi hari ini lagi ‘ditegur’, secara spesifik, lewat Internet. Yang negur juga saya ga kenal.

     

    Kenapa sih berpuasa di bulan Ramadan? Dalam penanggalan Islam yang berdasarkan bulan/lunar calendar sama-sama ada dua belas bulan seperti kalender masehi; nah, Ramadan ini jatuh di musim panas. 

    Lalu udah tau musim panas kok malah disuruh puasa? SATU BULAN pula! Ga boleh makan ga boleh minum dari matahari belum keliatan sampe matahari udah ga keliatan! Sebelum subuh sampe maghrib! Apa ga mati?? (Pertanyaan “apa ga mati?” ini beneran pernah ditanyain ke saya pas saya masih kuliah ? “Hah? Jadi kalo lu puasa itu beneran ga boleh makan dan ga boleh minum? YA AMPUN TERUS LU GA MATI??”)

    Pertama, saya punya cadangan lemak di tubuh yang cukup untuk menyaingi singa laut di kutub.

    Kedua, justru itu sebabnya kenapa Ramadan dipilih untuk berpuasa. Ujian mental dan fisik. Panas-panas, emosi jiwa, mana pake laper pula. Apa ga mode senggol bacok itu. Dan buat orang-orang yang bisa menahan dirinya dari nafsu selama berpuasa, niscaya mereka adalah orang-orang yang beruntung ?

    Ketiga, menyadarkan diri kita yang mampu ini (privileges). Puasa Ramadan ini salah satu pelajaran untuk mengingatkan kita bahwa, “eh, ada lho orang susah dan ga mampu yang puasa ga pas Ramadan doang. Mereka sehari-hari makan cuma sekali — dua kali kalo lagi beruntung. Tapi mereka ga ngeluh! Mereka tetep kerja! Mereka tetep sabar! Masa lu ga bisa? Coba lu rasain hidup seperti mereka walopun hanya sebulan.” Di dalam banyak tujuan, menghormati dan salut kepada saudara-saudara kita yang tabah dan hebat dalam menjalani hidup adalah salah satu tujuan Ramadan.

    Balik ke soal foto Instagram di atas.

    “Saat bulan Ramadan, baru tahu/sadar seperti apa rasanya hidup orang kurang mampu.

    Lalu, kita beli makanan untuk berbuka puasa/iftar di bazaar (Ramadan).

    Kira-kira, orang kurang mampu itu makan apa untuk iftar? Untuk sahur?

    Karena itu, ayo muhasabah diri. Perbaiki diri.”

    Astaghfirullah. Padahal saya sendiri ini puasa Ramadan udah paling cemen. Tidur di kamar ber-AC, mau sahur dan iftar makanan tersedia, tempat tinggal ada… KOK MASIH NGELUH JUGA?

    Rasanya kaya ditempeleng pake wajan ya. Iya.

  • Ramadan #11


    Sebenernya ga banyak yang bisa diceritakan; matahari masih panas membara (?) dan karena ini hari Minggu, jadi kita juga santai di rumah. Mendekati maghrib, baru jalan ke bazaar Ramadan deket rumah yang berlokasi di area Datuk Keramat.

    Masalah utama kalo ke sini dalam keadaan puasa itu satu: laper mata, huhuhuhu. Kayanya semua enak dan ingin dibeli ya, hahaha. Apalagi kalo minuman dingiiin dan segaaaar.

    Salah satu jajanan favorit saya adalah sate bakso ikan. Jadi cuma bakso ikan digoreng lalu dicocol ke saus sambal.

    Kami tadi membeli jus semangka (saya), jus mangga (Ari), gorengan bakso ikan, pisang goreng, dan martabak. Untuk makan malam, Ari beli nasi kerabu. Untuk sahur, beli nasi tomato.

    Sedaaaap! Insya Allah kapan-kapan ke sini lagi, saya ingin coba roti jala dengan durian.

  • Ramadan #10


    Sudah beberapa hari ini KL panas luar biasa. Hafiz di Malang cerita kalo Malang justru sedang dingin sekali. Mungkin karena pulau Jawa lokasinya di bagian selatan garis khatulistiwa, saat ini cuacanya lebih sering dingin — plus sedang musim dingin di Australia.

    Oh iya, hari ini ada berita besar yang terjadi di Amerika Serikat. Supreme Court (Mahkamah Tinggi) Amerika Serikat akhirnya menyatakan bahwa pernikahan sesama jenis dianggap legal di 50 negara bagian di Amerika Serikat. Saya nonton perayaannya di Snapchat dan luar biasa rasanyaaaaa ? Sampe terharu melihatnya.

    Soal hubungan sesama jenis/homoseksual, memang kembali ke diri kita masing-masing. Ada yang setuju, ada yang nggak. Tapi jangan anggep kaum LGBTQ itu nggak ada ya. Mereka ada. Kalo ga setuju dengan homoseksualitas, ya udah. Sama seperti teh atau kopi. Ada yang suka, ada yang nggak. Pendapat tetep dihargai kok, karena kebebasan beropini selalu ada (misal, “buat gw, homoseksualitas itu salah, soalnya di aturan agama gw dilarang…”) Tapi ya nggak perlu menjelek-jelekkan mereka, apalagi menghina (misal, “buat gw, homoseksualitas itu salah, soalnya di aturan agama gw dilarang. Tapi gw tetep menghormati mereka sebagai manusia. Urusan seksualitas mereka ya urusan mereka pribadi, bukan urusan gw”) Karena pertanyaannya: emang kita sendiri udah sempurna? Belum, kan? Ya udah ? Dan (tetep) mengutip dari Paus Fransis (EEEEH TERNYATA KITA ULANG TAUNNYA DEKETAN LHO, PAUS FRANSIS *sok kenal bener deh*) , “siapakah saya, menghakimi mereka (kaum LGBTQ)?” HIDUP PAUS FRANSIS. MERDEKA.

    Balik ke soal Ramadan… Udah mendekati pertengahan Ramadan, harusnya ibadah makin bagus gitu ya, tapi saya mah urusan tidur tetep aja kebluk. Dan masih gitu deh, susaaah banget buat khusyu’ ibadah. Terus saya jadi jengkel karena susah khusyu’. Emang ya, ga boleh nganggep enteng kalo urusan ngerjain ibadah mah. Bismillah, semoga kuat ?

  • I’ve been noticing some blogs that I frequently visit that they have update logs on it. Something like “added page XYZ on (date)”, and so on.

    My FOMO has been screaming for me to follow suit, hahah.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer