Today many people find it strange that the biggest meal of the day once centered around noon, but it made great sense at the time. Artificial lighting such as oil lamps and candles were expensive, and provided weak illumination at best. So people went to sleep at sundown, because it’s difficult to work and eat in the dark. The last meal of the day was a rushed affair, a quick snack before the lights (the sun) went out. The only exceptions were those who had to work at night, and the extremely wealthy and powerful people at royal courts. The wealthiest courts, like those of France and Burgundy might stay up after sunset, their grandly decorated halls illuminated by thousands of candles or torches. But they were unusual; most medieval people never witnessed such spectacles.
Author: Nindya
-

Halo, Ipoh!
Ihiy, prestasi ini, tadi siang ke Ipoh, sorenya sudah update blog, hahaha.
Jadi kami di Malaysia mendapat long weekend (di Indonesia juga) karena tanggal 1 Mei yang merupakan Hari Buruh Internasional jatuh pada hari Jumat kemarin. Setelah cukup beristirahat beberapa hari pasca tumbangnya saya dan Wira gara-gara virus, tadi pagi kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke Ipoh. Saya ga tau persisnya kenapa mendadak pengen ke Ipoh, tapi Ari bilang, “EH KE IPOH YUK!” yang tentu aja dijawab dengan “HAYUK!”, hahaha.
Ipoh cukup terkenal di kalangan penggemar kopi di Malaysia dengan sebutan “Ipoh White Coffee”. Kalo ga salah, kalo ga salah ya ni, salah satu ‘motor’ white coffee di Malaysia itu sebuah jaringan kopitiam (cafe) bernama Old Town yang mempunyai kantor pusat di Ipoh, Perak. Selain white coffee, Ipoh juga terkenal dengan mi kari-nya yang super berbumbu.
Jarak dari Kuala Lumpur ke Ipoh kira-kira 177 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu 2-3 jam. Kami berangkat pukul 10 pagi — setelah beres-beres rumah yang nyaris seperti kapal pecah karena tidak sempat saya urus selama saya sakit — dan sampai di Ipoh pukul 12 siang.
Ipoh ini mempunyai sisi “kota tua” yang baru-baru ini dipercantik oleh pihak Dewan Bandaraya Ipoh dan mempunyai beberapa mural. Mural di Ipoh ini dilukis oleh Ernest Zacharevic, artis mural yang juga melukis mural-mural yang terkenal di Georgetown, Penang.
Begitu tiba di Ipoh, tentu saja kami langsung menuju Old Town White Coffee cafe di Jalan Tun Sambanthan untuk makan siang, hahaha. Old Town cafe ini yang beken dengan mural “An Old Uncle Drinking Coffee”.


Oke, saya harus jujur nih ya, awalnya — AWALNYA — saya kira “wah Old Town ini pasti bakal rame banget soalnya ya pasti beken lah ya dengan muralnya dan pasti turis pada numplek blek di sini” yang ternyata… Saya agak salah, hahahaha. Rame, iya. Soalnya jam makan siang. Standar lah. Tapi selain turis, banyak juga warga lokal yang makan siang di situ selepas pertandingan olahraga di lapangan yang terletak persis di depan Old Town. Jadi suasananya memang nyaman banget dan ga terlalu sumpek. Untuk rasa, saya pribadi suka banget sama Old Town karena selain enak (ADUH SAYA MAH NGE-FANS BANGET SAMA MIE TELUR-NYA SAMA CHICKEN CHOP-NYAAAAAA) harganya juga muraaaaaaaaaaahhhhh, hahahaha.


Sambil menikmati tea ais (khas Malaysia banget! Teh di Malaysia biasanya disajikan dengan susu. Untuk orang Indonesia yang mungkin agak kaget dengan campuran teh dan susu ini, bisa minta “teh o” alias teh aja — ga dicampur susu), Wira rupanya penasaran dengan kamera yang saya bawa (Nikon D5100) dan dia pengen juga belajar motret, hahaha. Jadi beberapa foto ini diambil dari sudut pandang anak umur tiga tahun, hahaha.


Selepas makan siang (yang Wira dari awalnya pengen kwetiaw mendadak pengen mie punya Ari karena mienya Ari pake telor) kami pengennya sih jalan-jalan melihat mural (ada tujuh mural di Ipoh) — tapi karena kami memang dateng ke sini pas siang hari dan matahari super terik (kalo kata temen saya, Ing, matahari di Malaysia ini kaya bawa temen-temennya. Segambreng, hahaha), kami hanya sempet melihat dua mural — “An Old Uncle Drinking Coffee” dan “A Paper Plane”. Memang nih harus lebih siap dengan topi dan sunblock.
Tapi saya rasa ini mah pertanda bahwa harus dateng ke Ipoh lagi ini *HUAHAHAHAHAHAHAHA*

Tapi kami sempet berjalan-jalan di area kota tua (“old town”) dan ada satu bangunan restoran di dekat situ yang menarik perhatian saya. Namanya Roquette Cafe.

Saya sangat suka dengan bagian kota tua di setiap kota. Senang sekali rasanya kalo melihat bangunan-bangunan tua yang umurnya sudah puluhan bahkan ratusan tahun masih terawat dan malah tetap digunakan untuk kafe, toko, atau kantor. Menunjukkan bahwa warga kota dan pemerintah kota sangat sayang dengan kotanya π

Kami juga sempet berkunjung ke Tugu Peringatan Birch (Birch Memorial). Dibuka untuk umum pada tahun 1909, Birch Memorial ini dibangun oleh pihak Inggris untuk memperingati J.W.W. Birch, penduduk Inggris pertama di Perak. Menara ini punya lonceng jam dan di sekelilingnya digambar 44 tokoh utama sejarah dunia. Ada empat patung terakota di tiap sudutnya untuk menggambarkan empat nilai utama dalam kejayaan Inggris: Kesetiaan, Keadilan, Kesabaran, dan Ketabahan.

Sayangnya (atau untungnya?) tepat di sebelah Birch Memorial sedang ada proyek renovasi dan pembangunan oleh pemerintah kota untuk mempercantik situs-situs bersejarah kota Ipoh. Memang jadinya agak “terganggu” karena ada bangunan proyek, tapi artinya situs-situs bersejarah di Ipoh pasti bakal makin keren nantinya, hahaha.

Ga jauh dari situ, ada stasiun kereta api Ipoh. Saya sebenernya pengen banget masuk ke stasiun, tapi udah siang dan udah pada kepanasan dan kecapean, akhirnya kami hanya foto-foto bagian luarnya.


Sambil berjalan menuju tempat parkir mobil, kami juga melewati kantor Dewan Bandaraya Ipoh yang dibangun pada tahun 1914 dan merupakah salah satu objek Heritage Trail Ipoh.


Kalo liat gedung-gedung tua seperti ini rasanya pengen banget ngegambar, hahaha. Memang nih harus main ke Ipoh lagi XD
Sebelum pulang, kami sempet mampir ke Kellie’s Castle yang terletak di Batu Gajah, 20 menit perjalanan dari Ipoh. Kellie’s Castle ini adalah reruntuhan dari istana dan rumah mewah yang belum selesai (!) yang dibangun pada tahun 1909 oleh William Kellie Smith. Entah rumah dan istana ini dimaksudkan untuk istrinya, Agnes, atau untuk anaknya, Anthony. Semua marmer dan batu bata di rumah dan istana itu diimpor dari India, dan rumah itu rencananya akan mempunyai 6 lantai dan sistem lift/elevator pertama di Malaysia.
Di dekat Kellie’s Castle ini, menariknya, ada kuil India — yang asal muasalnya karena penyakit flu Spanyol (Spanish flu) yang melanda para pekerja yang membangun istana dan rumah itu. Para pekerja itu meminta ke Kellie untuk membangun kuil di dekat situ dan Kellie langsung setuju. Kabarnya, di kuil itu terdapat patung William Kellie sebagai ungkapan terima kasih para pekerja itu — dan di rumah itu memang ada terowongan bawah tanah yang menghubungkan rumah tersebut dengan kuil.
William Kellie meninggal pada usia 56 tahun karena pneunomia saat dia berkunjung ke Portugis. Istrinya, patah hati, memutuskan untuk kembali ke Skotlandia tanpa niat untuk menyelesaikan rumah itu dan menjual rumah tersebut ke sebuah perusahaan Inggris, Harrisons and Crosfield.






Kabarnya, reruntuhan itu berhantu.
Dihantui oleh William Kellie yang masih ingin menjaga rumah dan istananya.
I don’t know if it’s my romantic side or what. Entah kenapa rasanya saya ingin mempercayai hal itu π Saya ingin percaya bahwa hantu William Kellie masih ada di reruntuhan itu. Paling tidak, dia tahu bahwa rumah dan istananya masih ada dan dijaga oleh pemerintah Malaysia. Dan mungkin, mungkin ya, walaupun kalo siang hari reruntuhan ini ramai oleh para turis yang datang, pada malam hari reruntuhan ini dimiliki oleh Kellie yang sedang berjalan-jalan di lorong reruntuhan.
Fun fact: Reruntuhan ini pernah dijadikan setting film ‘Anna and The King’ (1999).
Perjalanan pulang kami dari Ipoh ke Kuala Lumpur ditemani oleh hujan. Rasanya cukup menyegarkan setelah seharian menikmati matahari terik.

Terima kasih, Ipoh! Saya akan kembali untuk menikmati mural, Heritage Trail, Gunung Lang, (lebih lama lagi di) Kellie’s Castle, dan menikmati makanan khas Ipoh π
Related links:
- Ipoh Tourism Board Official Website –Β http://www.ipoh-city.com
- Art of Old Town –Β http://www.ipoh-city.com/attraction/art_of_oldtown/
- Kellie’s Castle –Β http://en.wikipedia.org/wiki/Kellie’s_Castle
-

Pasukan Tumbang
Halooooo, setelah beberapa minggu (?) tidak ada kabarnya — kecuali lewat foto-foto Instagram — akhirnya (“akhirnya?”) saya ngeblog lagi, hahaha.
Dua hari ini saya dan Wira tumbang. Sebenernya diawali oleh saya di hari Senin kemarin; bangun pagi kepala dan perut terasa sakit sekali. Cek suhu badan — ya nggak terlalu tinggi juga sih — 38.5 derajat celcius. Tapi kepala pusingnya itu yang ga nahan, plus kalo demam emang rasanya mata pengennya merem terus dan tidur. Jadi lah yang dapet tugas antar jemput Wira adalah Ari.
Wira pulang sekolah, masih keliatan biasa-biasa aja. Bahkan pagi harinya Ari sempet berpesan ke Wira, “ibu lagi sakit, jadi Wira ga rewel ya…” Sesiangan di rumah, Wira ternyata bener-bener ga mau “gangguin” saya. Dia biarin saya tidur sesiangan, dan ketika dia laper dan haus pun ga mau bangunin saya π Baru ketika saya bangun dan bertanya, “Wira mau makan dan minum?” Dia mengangguk sambil nyaris menangis. APA GA PATAH HATI ITU RASANYAAAAAAAA.
Jam setengah enam sore, Ari pulang kantor. Begitu dia pegang Wira, dia langsung nanya, “Sayang. Ini Wira kok… Panas ya?” Cek di termometer, suhu badan Wira mencapai 39 derajat Celcius. Langsung itu rasanya pusing kepala ditendang pergi sama paniknya saya *hadezig!* Wira lalu menangis keras — dan itu sebenernya jarang banget kejadian. Dia menangis sambil mengeluh, “sakit kepala… Sakit badan…” Langsung kita semua macem rombongan suporter bola melaju ke rumah sakit Gleneagles.
Sampe di rumah sakit, Wira udah agak tenang. Dia masih mau makan snack Pocky dan minum Milo dingin. Sambil nunggu nomor urutan dipanggil, masih bercanda sama Ari dan saya. Melihat dia masih mau makan dan ga muntah, itu sebenernya yang masih bikin saya tenang.
Ketika dicek dokter, dokter meresepkan obat penurun panas dan penghilang rasa sakit. Saya sempet khawatir, jangan sampe deh ini dengue atau typhus; tapi dokter menggeleng sambil berkata, “tak apa. Ni virus saja. It happens because the weather is changing. Hot then rain, hot then rain.”
Kemarin, Wira ijin ga masuk sekolah. Jadi lah kami berdua seharian di rumah — dan itu bosennya bosen banget. Sama-sama sakit, jadi mau ngapa-ngapain juga level energi terbatas banget. Hanya saja, ketika pagi suhu badan dia agak mendingan (37-38 derajat celcius); nah ketika jam 3 sore, ngok, langsung 39.8 derajat celcius. Apa ga putus syaraf saya.
Tadi pagi, demamnya sudah jauh lebih mendingan. Suhu badan sudah konstan di kisaran 36 derajat celcius — “paling tinggi” 36.8 derajat — tapi karena sakit, nafsu makan Wira, walaupun ada, menurun drastis. Makan nasi hanya sesuap, cookies (!) hanya dua gigit, coklat (COKLAT LHO, COKLAT) hanya sepotong kecil. Saya tanya ke dia, makan siang mau apa.
Wira menjawab pelan, “Wira mau mie pake telor, boleh?”
Mie instan emang bukan makanan paling sehat sedunia, tapi itu adalah comfort food nomer satu. Buat saya mah ya udah lah, yang penting anaknya mau makan dulu. Jadi saya buatkan mie instan Maggi rasa kari dengan telur rebus. Alhamdulillah makannya lahap sekali.

Habis semangkuk, baru dia tidur siang yang sebelumnya minum susu dulu.
Kalo dia lagi sakit begini, saya suka keinget saat Wira masih bayi. Kira-kira umur 10 bulan. Saat itu dia lagi demam tinggi mencapai 40 derajat celcius, dan saya berdua Wira naik taksi menuju rumah sakit — dan Ari sudah menunggu di sana (dia langsung ke rumah sakit dari kantor).
Mungkin itu kali ya, rasanya jadi orangtua? Begitu anak sakit, rasanya melihat dia kembali menjadi bayi.
Buat temen-temen pembaca, cuaca emang lagi ga menentu seperti ini — sebentar terik panas membara, sebentar hujan deras — jadi jangan lupa minum vitamin dan jaga kesehatan ya.
PS. Sebenernya banyak banget yang pengen diceritain — jalan-jalan ke Zoo Negara dan tempat makan enak di area Ampang — tapi takut terlalu panjang jadinya, hahaha. Nanti saya tulis lagi π
-

Kue Ulang Tahun
Insya Allah dalam waktu dekat ini Wira akan merayakan ulangtahunnya yang ke-tiga; Ari dan saya sama-sama setuju untuk mengadakannya di sekolah. Sebelumnya saya pernah melihat beberapa orangtua yang mengadakan perayaan ulangtahun anak mereka di sekolah, dan biasanya mereka membawa kue ulangtahun.
Awalnya saya berpikir, “kue ulangtahun bisa beli saja kali ya?” tetapi saya… Salah besar.
Iya, sebenernya bisa beli, hanya saja mungkin sedikit lebih rumit, hahaha.
Jadi saat saya mengutarakan niat saya untuk merayakan ulangtahun Wira di sekolah, pihak sekolah memberikan saya surat informasi untuk perayaan ulangtahun Wira. Jadi nantinya akan diadakan “Culture Walk”, ketika guru dan/atau orangtua menjelaskan negara asal si anak — untuk Wira, Indonesia — ke teman-teman sekelas. Ada juga tiup lilin dan potong kue ulangtahun.
Nah, untuk kue ulangtahun, ada beberapa spesifikasi:
- Less sugar. Pernah melihat anak-anak makan permen terlalu banyak? Nah, itu salah satu hal yang sebaiknya DIHINDARI. Jadi tertulis jelas di surat informasi bahwa kue ulangtahun sebaiknya nggak mengandung terlalu banyak gula ataupun permen.
- Krim segar untuk hiasan kue sangat dianjurkan. Karena lebih aman untuk anak-anak dibandingkan krim instan kalengan yang mungkin mengandung pengawet dan/atau pemanis.
- Tidak mengandung kacang. Untuk menghindari reaksi alergi kacang di antara anak-anak (apabila ada yang mempunyai alergi.)
Masalahnya, kue ulangtahun itu biasanya ya… Errrr… Mengandung gula. Krimnya sendiri PASTI mengandung gula; dan tentu saja fondant.
Bingung lah saya ini sebaiknya gimana, hahaha. Kalau beli, artinya saya bakal rewel luar biasa dengan spesifikasi macam-macam.
Jadi cara paling “mudah” adalah memanggang kue sendiri, hahaha.
Ini resep yang rencananya saya akan gunakan:
Karena saya jarang sekali memanggang kue, saya memutuskan untuk latihan terlebih dahulu. Kemarin malam saya mencoba memanggang kue dengan hiasan krim dan buah peach. Hasilnya? Yaaaaaa, lumayan lah, hahaha.

Jelas banyak hal yang perlu dibetulkan, tapi saya pribadi cukup senang π Doakan saya semoga nanti hasilnya memuaskan dan enak ya, hahaha.
-

Mimpi
Mimpi saat tidur itu bisa dibuat nggak ya?
Maksud saya, bener-bener ngebuat mimpi. Jadi sebelum tidur secara spesifik berpikir “nanti harus mimpi kaya gini” atau ngeliat foto dan/atau video yang berhubungan dengan mimpi itu.
Karena ada satu mimpi yang saya kangen sekali.
Setahun yang lalu, saya bermimpi melihat langit malam penuh bintang galaksi Bimasakti (saya tahu betul itu setahun yang lalu karena tertera di app Timehop saya). Dan saya ingat betul perasaan saya ketika saya bangun: Bahagia. Lega.
Dan saat ini saya butuh sekali mimpi itu. Saya sangat membutuhkannya.
Featured image: One Big Photo
-

Suara dan Cahaya
Sudah agak lama, beberapa minggu sebelum ini, kami sekeluarga sedang berjalan-jalan di Suria KLCC. Ketika sedang berjalan di lobby mall, ada anak laki-laki, kira-kira berumur 8-10 tahun, mendadak berteriak dengan kencang berkali-kali. Wira otomatis menoleh ke anak laki-laki itu (yang langsung dibawa pergi secara terburu-buru oleh orangtua dan saudaranya) dan bertanya, “kakak berteriak?”
“Iya. Kakak berteriak.”
“Kakak berisik?”
Dan untuk saya, ini saat yang tepat untuk menjelaskan satu hal ke Wira: Autisme.
“Iya, berteriak memang menimbulkan suara berisik. Tapi kakak berteriak karena sekitar dia berisik dan kakak merasa nggak nyaman dan ketakutan.”
“Kakak takut?”
“Iya. Ada beberapa kakak, adik, dan teman-teman Wira yang lebih sensitif terhadap cahaya dan suara. Beberapa dari mereka belum terbiasa dan suara-suara itu membuat mereka takut. Kalo Wira takut, Wira biasanya ngapain?”
“Nangis.”
“Nah itu. Kakak itu berteriak karena takut dan nggak nyaman.”
“Kakak udah nggak apa-apa sekarang?”
“Insya Allah kakak udah nggak apa-apa. Ayah ibunya si kakak dan adeknya si kakak itu hebat. Mereka tau gimana biar kakak ga takut lagi.”
“Kakak juga hebat?”
“Kakak juga hebat.”
Sumber gambar: Wikihow – How to Reduce Sensory Overload: 8 Steps
Links: 5 Autism Simulations to Help You Experience Sensory Overload
-

Potty Training
Aaaaaaah, sudah lama sekali nggak update blog. Maafkan saya π
“Sedikit” (“SEDIKIT”?) nggak mood karena dua minggu ini keadaan badan lagi nggak enak. Jadi pertama saya sariawan di pipi bagian dalam sebelah kiri karena nggak sengaja kegigit pas makan. Belum sariawan sembuh, eh gusi geraham belakang bengkak. Dan itu bengkaknya bengkak banget sampe impaksi (impact — ketika gusi membengkak sampe menutupi gigi dan otomatis tergigit gigi atas/bawah) dan itu asli sakitnya sakiiiit, huhuhu. Beberapa hari minum Panadol atau Ponstan, lalu perbanyak vitamin B dan C. Saya juga akhirnya memulai kebiasaan flossing (mengeluarkan sisa makanan dari sela-sela gigi menggunakan benang) — dan saya baru ngeh soal flossing ini.
Di Indonesia, kayanya kebiasaan flossing ini jarang disosialisasikan ya? Seinget saya dari SD kalo ada penyuluhan mengenai kesehatan gigi dari rumah sakit ataupun sekolah, biasanya ya soal sikat gigi. Flossing “hanya” ada di buku-buku kesehatan atau poster di ruangan dokter gigi, itupun juga nggak dibahas.
Padahal sikat gigi DAN flossing itu sama-sama penting. Sikat gigi membersihkan gigi dan gusi, flossing membersihkan sela-sela gigi yang bener-bener susah dijangkau. Beneran deh, jangan percaya sama iklan sikat gigi yang katanya bulu sikatnya tipis banget bisa ke sela-sela gigi. Mending flossing, beneran bersihin dan keangkat. Jadi udah semingguan ini saya berusaha membiasakan diri untuk combo sikat gigi, flossing, dan kumur-kumur dengan mouthwash pagi dan sore.
Oke, walopun itu terdengar sangat payah, tapi percayalah bahwa yang namanya update blog itu ga ada kepengen-kepengennya kalo gusi bengkak yang sakitnya naudzubillah.
Dan baru-baru ini, Wira sedang potty training. Iya, itu sangat memakan waktu, ahahaha. Jadi nggak bisa leyeh-leyeh juga karena harus selalu siap siaga.
Jadi Wira ini Insya Allah akan menginjak umur 3 tahun dan dia masih pake, ahem, diapers. Iya, anak-anak itu berbeda-beda. Ada yang umur 1.5 tahun sudah “lulus” popok, ada yang umur 4 tahun baru belajar menggunakan toilet. Nggak usah lah menuding orangtuanya kaya gimana. Masing-masing ada caranya sendiri dan kita nggak tau kondisi mereka gimana. Karena potty training ini hubungannya erat banget sama kondisi psikologis si anak (dan orangtua.)
Pertama, soal si anak. Potty training ini masalah mau dan gamau si anak. Maksudnya gimana? Ada anak yang sering liat orangtuanya ke toilet dan eh kok jadi tertarik. “Pengen kaya papa mama,” mungkin bilangnya. “Pengen bisa pipis dan pupup di toilet juga kaya ayah ibu,” mungkin ngomongnya. Kalo udah gitu, bisa dilatih. Apalagi kalo anaknya ngomong, “aku udah gede! Udah ga usah pake popok lagi! Anak-anak gede pake toilet, ga pake popok!” Insya Allah lebih gampang itu ngelatihnya.
Nah, tapi ada juga anak kok yang kayanya selo-selo aja, alias nggak ngomong dia minat atau nggak. Kayanya kok masih cinta-cinta aja sama popok, hahaha. Nah, ini contohnya ya Wira. Iya, dia tau dan liat kok kalo orangtuanya ke toilet. Tapi belum pernah dia ada rasa minat untuk menggunakan toilet. Untuk anak-anak kaya gini, jujur, lebih susah untuk latian potty training. Anaknya diem-diem aja tuh.
Kalo diem-diem aja, gimana dong taunya dia udah siap atau belum untuk potty training? Pertama, dia bisa lepas celana/rok sendiri. Karena ini penting, hahaha. Selain belajar “ini lho toilet buat kamu pipis dan pupup”, anak juga harus tau cara ke toilet sendiri — kalo-kalo pas dia mau ke toilet, orang dewasa di sekitar dia lagi sibuk atau ga nyadar. Dan ini PENTING juga buat diingat, wahai orangtua, untuk mulai mengajari anaknya mengenai batas-batas dalam tubuh mereka. Yang HANYA bisa melihat organ pribadi mereka hanyalah orangtua, pengasuh (kalau masih dimandikan — dan itu juga dibatasi aksesnya), guru (kalau sekolah (preschool) bersedia melakukan potty training juga — ini juga sama. TERBATAS SEKALI. Dan guru juga hanya guru yang dipercaya oleh orangtua dan anak. Orangtua harus menyatakan dengan jelas soal ini), dan dokter apabila sedang memeriksa dengan kehadiran orangtua. Kedua, dia ngerti toilet itu apa dan buat apa. Ini udah kaya kaset rekaman rusak dah. Diulang-ulang berkali-kali, “kalo pipis di toi..? Leeet. Kalo pupup di toi…? Leeet.” Ketiga, umur. Ini sebenernya ga jadi patokan secara pasti, tapi umumnya balita umur 18 bulan ke atas sudah bisa dilatih potty training karena mereka umumnya udah mengerti perintah-perintah pendek. Keempat, jadwal buang air lebih bisa diprediksi. Nggak seperti bayi yang rada sporadis, anak-anak yang sudah siap potty training biasanya kalo tidur malam ataupun tidur siang udah nggak buang air lagi (ditandai dengan popok yang kering).
Masih soal anak, ada anak yang awalnya kok hayo-hayo aja dia potty training eh mendadak minggu depannya dia mogok. Padahal udah bisa nih pipis atau pupup di toilet sendiri, tapi kok mendadak kaya amnesia gitu kenapa ini? Ya namanya juga anak-anak. Mereka bisa mogok juga. Kadang karena ngerasa terlalu dipaksa atau ngerasa ini prosesnya terlalu cepet dan dia kangen popoknya dan kemudahan kalo pake popok (ya kalo pipis tinggal pipis aja gituh.) Selain itu, bisa jadi faktor eksternal yang berupa perubahan besar di hidup si anak. Pindah rumah, sekolah baru, punya adek baru, macem-macem. Wira ini juga tersendat-sendat potty training-nya karena pindah rumah plus negara dan sekolah baru. Jadi kalo mau potty training, pastiin ga ada situasi yang bikin “kaget” si anak. Lah kalo ada yang ujug-ujug kejadian? Misalnya si ayah tiba-tiba pulang kantor lalu ngomong, “kita pindah rumah bulan depan, ayah dipindahkan ke kantor cabang baru!” itu gimana? Ya siap-siap kalo anaknya mogok. Tarik nafas dalam-dalam, dan gapapa pake diapers lagi. Nggak bakal ada yang menghakimi. Kalopun ada yang menghakimi, ceburin aja ke Ciliwung. Sebelumnya tempeleng dulu kepalanya.
Kedua, orangtuanya. Orangtuanya sih kayanya siap-siap aja ya untuk ngelatih potty training (apalagi harga diapers itu mihil bingits, hahahaha) tapi sesiap-siapnya orangtua, mesti lebih siap lagi satu hal: SABAR.
Noh, udah caps lock, saya tebelin plus miringin plus garis bawah.
Sabarnya itu sabar yang… Errr, gimana ya. Ya gitu deh.
Saya? Saya orangnya bukan orang penyabar. Saya pemarah, emosian, dan gampang pundung.
Entah berapa kali saya berteriak ke Wira karena saya JUENGKEL setengah mati. Ini anak udah dibilangin kalo mau pipis itu ya di toilet kok masih aja ngompol sih di ruang TV?? Padahal itu lantai BARU AJA DIPEL! TERUS ITU APA ITU KOK BERCECERAN MAINAN DIMANA-MANA HARRRRRGGGHHHH *jadi Hulk*
Sampe ketika Senin lalu sekolahnya Wira libur untuk libur semester selama dua minggu dan saya ngebatin sendiri, “YAK. POTTY TRAINING INTENSIF KE WIRA SELAMA DUA MINGGU.” Selama di rumah, ga dipakein popok. Popok hanya dipake ketika tidur dan pergi ke luar rumah.
Dan ada satu kunci yang saya genggam erat-erat di hati dan kepala saya: Zero expectations.
Bener-bener nol.
Saya nggak mau berharap apa-apa ke Wira. Saya nggak mau berharap anak umur tiga tahun dibilangin fungsi toilet langsung *tring* ngerti. Saya nggak mau berharap Wira nggak ngompol lagi begitu dibilangin “pipis di toilet. Pupup di toilet” sekali. Kasur, karpet, atau sofa kena pipis? Ya sudahlaaaaah. Ambil nafas dalam-dalam lalu hitung sampe sepuluh.
Ngompol ya udah, kepaksa pupup di celana ya udah.
Kesabaran dan spray disinfektan, hahahahaha. Saya bela-belain beli jadi kalo dia ngompol di lantai, tinggal saya semprot disinfektan dan saya lap, hahahahaha.
Dan itu bikin saya jadi lebih… Apa ya, lebih tenang (?) Dan yang saya perhatikan, saya dan Wira malah jadi lebih dekat. Saya jadi ngeh reaksi Wira kalo dia nahan pipis — dan itu kocak banget. Lalu lari-lari ke toilet, berharap-harap semoga dia ga keburu ngompol, hahahaha.
Sampe akhirnya hari Rabu kemarin, saya lagi nyetrika jemuran. Wira jalan bolak-balik deket saya. Awalnya saya kira dia cuma mau ngecek ibunya masih nyetrika atau nggak, tapi saya perhatiin ni anak kok narik-narik celananya melulu.
“Wira mau pipis?”
Dia ngeliat saya lalu sambil meringis menjawab, “iyaaaaa!”
Nah, sebenernya saya skeptis. Karena sejak potty training, anak ini jadi paranoid luar biasa (mirip ibunya). Dia mau kentut aja pake ribut dulu karena dikiranya pupup. Tapi gapapa deh paranoid daripada bubar jalan di tengah jalan.
Dan anak ini sebelumnya udah berkali-kali bilang “mau pipis!” dan bolak-balik pulalah saya ninggalin setrikaan untuk nemenin dia ke toilet yang berujung ternyata dia nggak pipis *krik krik krik*
Jadi pas dia bilang dia mau pipis, saya cuma menjawab, “Wira, ibu lagi nyetrika pakaian nih, dan ga bisa ditinggal. Wira bisa ke toilet sendiri? Lepas celana lalu duduk di toilet?”
“Bisa”
Lalu lari lah dia ke toilet.
Nggak lama, saya ngintip dari pintu dapur ke arah toilet. Anaknya lagi duduk di toilet. Liat saya, dia teriak, “ibuuuu! Udaaaah!”
“Udah apanya?”
“Udah pipisnya!”
“… Wira beneran pipis?”
“Iya!”
Saya cek, bener ada air seni di dalam toilet. Jadi bener, anak ini ke toilet sendiri.
Pernah ngerasain rasanya dipanggil guru ke depan kelas lalu dipuji karena menjadi murid teladan?
Saya sih nggak, karena saya bukan murid teladan waktu masih sekolah.
Tapi rasanya… Kira-kira begitu lah kayanya kali ya? Bangga luar biasa. Saya sampe berteriak senang, “WIRA HEBAAAAAT!” Anaknya saya peluk sampe dia berontak karena jengkel ibunya ini kenapa meluk dia kenceng banget sambil bersorak-sorai di telinga.
Lalu apakah setelah itu selesai?
NGGAK.
Masih kok beberapa kecelakaan-kecelakaan kecil, hahaha. Namanya juga belajar, perlu beradaptasi. Ya anaknya, ya orangtuanya. Saya sering ngomong ke Wira, “Wira itu anak laki-laki hebat, jadi nggak perlu pake popok lagi.”
Saran saya untuk sesama orangtua yang sedang menjalankan potty training: Reward yourself.
Ngelatih anak ke toilet ini salah satu pekerjaan yang paling susah dan nyebelin. Saya ngerasa harusnya pemerintah Indonesia make isu potty training ini sebagai program KB aja sekalian. Si anak bisa jengkel, si orangtua bisa setengah sinting. Jadi cara supaya tetep waras ya itu… Sabar dan hadiah.
Untuk setiap latihan toilet Wira yang sukses (dilakukan di toilet, nggak “kebobolan” di luar), saya suka bikin teh anget atau ngemil Cheetos. Aduh, nggak ada deh peduli-pedulinya sama gendut atau apapun itu. Saya seorang ibu, saya sedang potty training anak saya, dan cuma Tuhan yang tau level stres saya ngelatih anak saya pake toilet dan saya butuh hiburan plis deh ah. Kecuali kalo ada yang mau ngasih saya dana belanja pakaian, make-up, dan gadget secara tak terbatas.
(Itu juga Cheetos saya sering banget dipajakin sama Wira. Paling nggak bisa deh dia liat cemilan di ruang TV.)
Soal hadiah, saya juga ngasih iming-iming ke Wira. Kalo dia bisa menggunakan toilet dengan baik dan benar (tanpa kecelakaan di luar toilet), saya akan membelikan dia satu set kereta api Thomas The Tank Engine yang selama ini dia lirik-lirik setiap kami ke Toys R’ Us, hahaha. Tapi saya kepikir juga untuk “hadiah-hadiah kecil”, mungkin saya bisa kasih Wira stiker π
Sok bijaknya saya nih, potty training ini kaya ngadepin kehidupan *tsaelah, Kap…*: Cheer and celebrate every small achievement and get yourself back up from every failure.
Jadi untuk merangkum soal potty training, ini beberapa tips dan trik, hahaha (jie saya, ngomongnya kaya udah ahli masalah keluarga dan anak-anak gini, hahahaha)
- Lihat apakah si anak (dan orangtua) siap secara mental. Bisa dilihat dari minat si anak, pengertian si anak mengenai fungsi toilet, kemampuan anak melepas celana/rok (plus melatih anak mengenai batas-batas kesopanan dan bagian tubuh pribadi mereka), umur (18 bulan ke atas, dianggap sudah bisa untuk potty training. Kalo ternyata belum? Ya gapapa,) dan jadwal buang air yang sudah lebih teratur.
- Mogok itu biasa. Kalo terjadi, dan menggunakan popok dirasa masih perlu, ya sudah. Nggak apa-apa. Mogok biasa terjadi kalo: adaptasi transisi popok ke toilet membebani si anak dan perubahan besar terjadi di lingkungan keluarga (pindah rumah, pindah negara, kehadiran saudara kandung baru.) Paling pedihnya di duit buat beliΒ diapers, hahahaha. Sakitnya tuh di dompet.
- Sabar. Sabar. Sabar. Ini dateng dari saya, orang yang paling ga sabaran. Jadi ini penting. Sabar.
- Gimana biar bisa sabar?Β Zero expectations. Nggak perlu berharap macem-macem dulu. Ada anak yang dibilangin sekali langsung ngerti, tapi rata-rata anak perlu dibilangin berkali-kali. Nggak apa-apa. Mereka belum bisa bales, “ih, ayah ibu cerewet, ih!” π
- Siapkan disinfektan dan lap. Kalo mau sedikit lebih rajin, kain pel. Pernah sekali Wira ngompol agak banyak yang berujung saya ngepel satu unit apartemen dengan pemutih yang berujung apartemen kami baunya kaya episode pembunuhan di CSI atau Dexter ketika si pembunuh ngebersihin TKP dengan pemutih.
- Hadiahi diri sendiri (dan anak, kalo mau.) Penting untuk kejiwaan. Bisa makan coklat, atau minum teh, atau ngemil… Apapun.Β You have done a good job in potty-training your kid. You deserve a good reward. You earned it.
Semoga membantu ya π Untuk sesama orangtua yang sedang melatih anaknya potty training, semangat! Untuk yang belum, atau mungkin hanya iseng-iseng baca, anggaplah tambahan ilmu, hahaha, dan terima kasih banyak udah membaca π
Sumber gambar: Huffington Post: Potty Training
-

Digital Natives
Ini topik klasik: Orangtua, anak-anak, dan gadget.
Bahkan sejak tahun 2012, isu gadget ini meningkat tajam — Parents Are Digital Hypocrites, Is Total Gadget Immersion Good or Bad for Kids? [INFOGRAPHIC] — tapi sampe sekarang pun masih gampang dilihat anak-anak yang memegang gadget di tangannya.
Saya, salah satunya.
Wira sudah mengenal gadget dari usia sangat muda. Hitungan bulan, malah. Sejak bayi dia sudah melihat orangtuanya memegang smartphone; bahkan dia baru lahir pun dia difoto dengan smartphone. Ada video saat dia masih 7-8 bulan sedang memegang iPhone.
Beranjak balita, dia lengket dengan iPad. Umur baru mendekati 3 tahun, dia sudah tahu cara mengakses Youtube dan navigasi di dalam aplikasi tersebut. Dia tahu bahwa dia bisa buka tab History untuk melihat video-video yang sudah dia tonton dan menonton ulang.
Digital natives, sebutannya. Anak-anak yang sudah lahir dalam teknologi, dan mahir menggunakannya. Sedangkan generasi orangtuanya biasa disebut digital pioneer dan early adopter. Yang menciptakan ataupun yang menggunakan pertama kali teknologi itu. Generasi saya adalah generasi yang merasakan penggunaan telepon biasa (landlines) sampai penggunaan smartphone. Yang masih merasakan menulis surat dengan kertas dan pena sampai penggunaan e-mail. Kita tahu telegram itu apa, tetapi kita sudah nggak menggunakan telegram lagi.
Sedangkan generasi Wira, mungkin sudah menganggap telepon biasa, telegram, surat, mesin ketik, dan banyak benda analog lainnya sebagai relik prasejarah.
Apakah itu hal yang buruk? Sebenernya nggak. Namanya juga teknologi, selalu berkembang. Dan kita beradaptasi dengan teknologi itu. Dan teknologi juga membantu kita. Jaman dulu berita darurat atau penting nggak bisa disampaikan secara langsung kecuali telepon yang mungkin harus melalui operator manusia. Sekarang, dengan mudah bisa disebar melalui social media di jaringan Internet.
Kembali soal Wira.
Saya jujur mengakui, saya sempat tidak memberikan jadwal bermain iPad ke dia. Kapanpun dia ingin, dia tinggal mengambil iPad di meja. Bahkan sering terlontar dari mulut saya, “Wira main iPad aja ya?” saat saya sedang harus melakukan kegiatan lain seperti memasak atau mencuci, atau ketika saya sedang ingin browsing Internet tanpa diganggu. iPad menjadi digital nanny Wira.
Namun ada satu hal yang saya sangat tegas dalam aktifitas iPad dan Wira: Konten. Wira hanya boleh dan hanya bisa mengakses konten anak-anak — dan jujur saya cukup bersyukur pihak Google dan Youtube punya terms of service (ToS) yang tegas soal itu; walaupun memang tidak semuanya aman untuk anak-anak. Saya tetap memonitor aktifitas video dia melalui tab History. Saya terang-terangan bilang, “tidak, ini bukan untuk Wira tonton saat ini,” saat dia menonton video yang tidak sesuai dengan umurnya.
Dan jujur, saat itu saya berpuas hati. Saya kira saya sudah menjadi “orangtua yang baik”.
Sampai kemarin saat saya mengobrol dengan guru sekolah Wira soal minatnya Wira.
Saya mengamati bahwa Wira menyukai musik dan gymnastic, sementara dia kurang suka menggambar. Awalnya saya mengira karena menggambar mengharuskan dia untuk duduk lama dan tidak bergerak. Gurunya mengkonfirmasikan hal itu.
“Wira suka sekali musik, gymnastic, dan story-telling. Dia sangat semangat ketika dia tahu sesuatu dan ingin menunjukkannya. Tetapi untuk menggambar, dia kurang suka; dan motorik jarinya dalam menggambar dan memegang krayon agak lemah.”
Saya terdiam.
Saya mengulangi ucapan gurunya Wira ke Ari. Lalu Ari terdiam beberapa saat.
“Dia terlalu banyak bermain iPad,” ucap Ari.
Yang mengiyakan apa yang ada di dalam kepala saya.
Semalam, kami berdua langsung membuat jadwal iPad. Wira kami ajak duduk bersama dan kami jelaskan mengenai jadwal baru iPad dan kenapa.
Kenapa? Dia kurang melakukan kegiatan yang melatih fisik dia.
Kenapa? Bahwa dia bisa berimajinasi dan bermain sendiri tanpa bantuan gadget.
Kenapa? Dia memang bisa mengetahui dunia yang luas melalui Internet, namun dia juga perlu mengetahui dunia sekitarnya. Dia harus bereksplorasi.
Break out the crayons, LEGO, bubbles, balls, and the toys.
iPad hanya boleh digunakan dengan pengawasan orangtua dan 15 menit sebelum tidur — dan sudah dipasang timer untuk itu. Begitu timer berbunyi, tanda iPad harus dimatikan dan saatnya tidur. Ada alternatif lain selain iPad: Buku cerita.
Selain itu, tidak ada iPad.
Bosan? Main LEGO. Tidur-tiduran. Main mobil-mobilan. Menggambar. Menari. Bernyanyi.
Dan ini melatih saya juga untuk tidak terpaku di depan smartphone saya. Ini juga mungkin ya, yang membuat saya ingin mengaktifkan blog saya kembali dan mundur sejenak dari social media. Menulis blog jauh lebih nyaman menggunakan laptop. Walaupun menggunakan laptop tetap bisa mengakses social media, tapi entah kenapa keinginan untuk browsing di social media tidak sekuat saat menggunakan smartphone.
Ini melatih saya untuk menjadi lebih sabar dengan Wira. Untuk ikut duduk dan menggambar atau bercerita atau bermain LEGO.
Teknologi dan gadget bukanlah sesuatu hal yang buruk. Malah sebenarnya sangat membantu umat manusia. Makin banyak berita yang dulunya disensor atau tidak dapat sampai di telinga orang lain di belahan bumi lain yang sekarang makin mudah diakses. Makin banyak pintu pengetahuan yang terbuka.
Fokusnya ini soal mengontrol diri. Kontrol terhadap konten dan akses. Kita bisa mengakses informasi apapun yang kita inginkan, tapi harus mengetahui dasar-dasarnya. Just because you can go online for 48 hours straight doesn’t mean you should go online for 48 hours straight (unless you have specific job to do so).
Makin Wira tumbuh besar, tentu saja peraturan penggunaan gadget di rumah juga berubah dan mengikuti perkembangannya. Tetapi saya merasa bahwa paling tidak sudah ada aturan dasar mengenai penggunaan gadget tersebut.