• Pertama Kali Mencoba Kanafah (Kunafa)

    Dua minggu lalu saat saya sedang berkeliaran di Facebook, saya menemukan video di atas dari FB Page INSIDER, dan saya langsung tertarik, hahaha. Saya penggemar keju, dan konsep keju sebagai makanan manis (dessert) sebenernya sih bukan hal baru banget ya (cheesecake, misalnya) tapi kayanya kanafah ini kok lejaaaat sekali, hahaha.

    Sewaktu saya share di FB saya, nah ada tiga teman saya yang pernah tinggal di Kuwait nih langsung nyamber. “KUNAFAAAA! YA AMPUN ITU ENAK BANGET KAAAAP!” Nah lho, gimana nggak makin penasaran saya?

    Saya teringat bahwa komunitas Arab di Kuala Lumpur itu lumayan besar. Selain Little India dan Chinatown yang tersohor, ada pula semacam Little Arab dan Little Korea tersebar di KL. Iseng saya coba cari di Google, apakah ada restoran Timur Tengah yang menyajikan kanafah ini. Beberapa hasil pencarian menyatakan ada, dan tersedia di beberapa restoran yang namanya cukup beken di KL. Nah, ada nih satu yang terletak di area Ampang Point, Selangor! Wah, deket rumah! Dan toko ini memang spesialisasi menyediakan manisan khas Timur Tengah seperti kanafah, baklava, dan sebagainya. Nama toko ini adalah Damas Sweets, berlokasi di 11, Jalan Mamanda 5, Taman Dato Ahmad Razali, 68000 Ampang, Selangor, Malaysia. Jam operasi mereka dimulai dari pukul 11 siang hingga 11 malam (menurut Google).

    Jujur ya, awalnya saya agak gentar mencoba manisan khas Timur Tengah. Saya takutnya kalau manisan itu terlalu, errr, manis. Makanya banyak manisan Timur Tengah disajikan dengan kopi Arabika yang tersohor itu. Tapi kadung penasaran, plus mas Ari sudah mengantarkan (dan disertai protes dari Wira, “ibu beli apa lagi sih? Hah? Makanan? TADI KAN BARUSAN MAKAN SIANG INI KOK BELI MAKANAN LAGIIIIII!”) jadi hayuk lah kita kemon!

    Masuk ke toko Damas Sweets, ada bau wangi manisan namun tidak terlalu menyengat. Baunya menyenangkan, malah. Saya sempet ngebatin, “wah jangan-jangan gini nih bau surga,” hahaha. Suasana dalam toko sangat tenang dan sejuk, seperti oase dari matahari KL yang menyengat.

    Penjaga toko menyambut saya dalam bahasa Inggris dan bertanya pesanan saya. Saya hanya menyebut, “kanafah,” dan penjaga toko menyebutkan harga per kilo (RM 53). Buset, rupanya mereka juga jualan per kilo. Ini menggambarkan betapa cintanya warga Timur Tengah dengan kuliner manisan mereka. Karena ini pertama kali saya mencoba, jadi saya memutuskan untuk membeli setengah kilogram saja.

    IMG_0505

    Kanafah yang disajikan rupanya kanafah yang plain, dan memang itu pilihan saya. Saya belum berani yang sudah modifikasi atau diberikan tambahan macam-macam, hahaha. Ada beberapa biji kacang pistachio sebagai hiasan, sisanya ya sama: keju dan pastry.

    IMG_0504

    Saya sempat mengira bahwa kanafah yang saya pesan akan dipotong panas-panas seperti yang di video, tapi ya nggak mungkin juga ya, hahaha. Namanya juga take away, sebaiknya disajikan dingin supaya bisa dihangatkan sendiri di rumah.

    Selama di perjalanan pulang, saya nggak bisa berhenti cengar-cengir, hahaha. Akhirnya kesampaian juga!

    IMG_0506

    Sesampainya di rumah, saya ambil sepotong kanafah lalu saya masukkan ke microwave dengan durasi 30 detik. Ketika weker berbunyi, oh ya ampuuuuun, kejunya meleleh. M E L E L E H.

    IMG_0507

    Rasa kejunya tidak terlalu kuat. Seperti makan keju mozarella atau ricotta yang memang lembut, sehingga nggak perlu khawatir dengan bau menusuk khas keju. Rasanya manis, tapi nggak yang terlalu manis bikin pusing kepala. Manis dan wangi (dari air mawar). Makan kanafah ini bisa makan satu porsi/satu potong dengan santai, namun setelahnya kesadar bahwa, “oke. Satu dulu aja deh,” hahaha. Tapi nggak eneg juga. Sangat nikmat bila dimakan hangat-hangat dan pelan-pelan sebagai teman minum teh atau kopi (yang sayangnya saya sedang nggak pengen minum dua-duanya, huhuhu) sambil ngobrol.

    Damas Sweets beralamat di:
    11, Jalan Mamanda 5, Taman Dato Ahmad Razali, 68000 Ampang, Selangor, Malaysia

    Jam kerja:
    Setiap hari: 11 pagi – 11 malam

  • Wira dan (Mild) Tantrum

    Wira jarang sekali yang namanya nangis sambil berteriak dan marah (mild tantrum). Kenapa? Karena gw dan Ari galak (hahaha) Dia ngeh kalo dianya mulai ehek-ehek, ortunya ga bakal peduli.

    Nah, barusan dia mild tantrum.

    Dan entah kenapa, entah kenapa ya, gw memutuskan untuk ngelayanin dia. Gw liat dia menangis sambil ingus meler ga karuan plus keringetan. Komplit dengan menjerit dan memukul kaki gw (pelan sih, kaya cuma ditepok aja, hahaha). Alasannya dia nangis? Ga mau tidur siang (iya klasik bener ya…)

    Jadi gw liatin aja muka dia menangis, dan itu bikin gw pengen ketawa sekaligus terharu.

    Udah beberapa hari ini gw sering liat video dan foto Wira ketika bayi. Terutama video dia nangis ngoaaaa ngoaaaa. Kayanya suediiiiih banget, kaya idup itu beban nestapa dunia akherat.

    Dan liat dia nangis tadi itu kaya… Gimana ya, kaya bikin gw ngeh, “this is my baby boy.” Mau nanti kamu udah segede apa atau setua apa, nak, mamakmu ini tetap posesif dan tukang khawatiran ga karuan.

    (Plus gw tau anak ini nangis buat ngetes aja. Dan dia sebenernya kepanasan dan kecapean)

    Gw pangku dia sambil berkali-kali bilang, “Wira harus bobo siang biar ga kecapean…”

    Lalu gw tanya deh, “Wira lebih milih bobo siang terus main atau menjerit dan kepanasan gini?”

    “Menjerit dan kepanasan”

    “Ya udah. Silakan menjerit sampe puas.”

    “… WAAAAAAAAA.”

    “… Udah?”

    “Udah”

    “Udah menjeritnya? Gitu aja?” (Ini bener gw bertanya dan ga ada nuansa menyindir)

    Anaknya ngangguk.

    Gw ke kamar sambil gandeng anaknya. Tutup gorden biar adem. Ga lama, anaknya tidur.

    Bocah, bocah…

    (Terus kalo dipanggil gitu, anaknya suka protes, “WIRA BUKAN BOCAH!” Lah, jadi apaan dong?)

  • Wira dan Berenang

    IMG_0489

    Sewaktu Wira bayi — oke, bukan bayi BANGET sih, kisaran usia 1-2 tahun lah. Toddler. Batita — dia sempat ikut les berenang di rumah temannya Ari yang kebetulan istrinya ini membuka les renang. Si istri sendiri ini sudah mempunyai sertifikat sebagai pengajar renang, terutama untuk anak-anak.

    Sebab utama kami menginginkan Wira bisa berenang adalah karena berenang itu kemampuan bertahan hidup/life skill. Salah satu dari kemampuan bertahan hidup yang musti dan wajib dimiliki.

    Ya namanya juga les berenang, otomatis ya anak-anak piyik-piyik itu dicebur-ceburin ke kolam renang. Diajak menyelam selama beberapa detik dan menggapai tepi kolam renang. Dan saat itu, Wira sangat menikmatinya. Ya saya juga (terpaksa) menikmati karena saya harus ikut berenang mendampingi Wira, hahaha.

    Flash forward to today, ketika kami pindah ke KL, Malaysia, otomatis Wira berhenti les berenang. Proses adaptasi yang nggak mudah dan berbagai hal baru yang membuat kami bertiga jadi nyadar, “nyet, we only have the three of us lho…” membuat Wira sempet jadi menempel lebih posesif ke saya, hahaha. Jadi bisa ditebak: Dia takut kolam renang.

    Jangankan berenang seperti dulu, masuk ke kolam renang saja harus menjerit-jerit dahulu. Yang stres ya saya dan ayahnya. Di satu sisi sebal kenapa anak ini penakut sekali, di satu sisi juga maklum karena namanya juga takut.

    Sekian lama kami mencoba melatih Wira — dan selalu gagal. Sampai ada satu hari saya bertemu dengan sesama orang tua di sekolahnya Wira. Ibu ini mempunyai anak perempuan yang merupakan teman sekelas dan teman baik Wira. Saat itu kami sedang mengobrol kegiatan sehari-hari anak-anak, terutama olahraga, dan sempet lah tercetus soal berenang. Rupanya ibu itu juga mempunyai masalah yang sama: Anaknya takut air, apalagi berenang. Dia cerita kalau dia sedang mencari-cari guru renang dan menawarkan ke saya untuk mengikutkan Wira les berenang bersama anaknya supaya biaya les renang juga jadi lebih murah.

    Saya setuju. Anaknya?

    Awalnya Wira semangat banget. Karena dia kira hanya sekedar cipak-cipuk main air.

    Begitu bertemu dengan guru renangnya dan diajak ke kolam renang, saya mulai deg-degan. Ibu teman Wira juga. “Aduh nangis nggak nih, nangis nggak nih, nangis nggak nih…”

    Anaknya bolak-balik menatap ke arah saya. Dia sendiri ga yakin dan ragu-ragu. Tapi dia udah janji mau ikut les renang dan ga menangis (hahaha). Guru renangnya meyakinkan dia bahwa dia akan baik-baik saja.

    Nah, teman sekolahnya Wira ini, ternyata adaptasi ke air jauh lebih mudah. Sebabnya? Dia ingin jadi putri duyung/mermaid, hahaha. Jadi begitu dibilang, “nanti bisa berenang seperti mermaid!” langsung nyebur lah dia. Wira, ngeliat temennya berani, mencoba berani dan ikut berenang. Awalnya masih takut-takut, namun pelan-pelan dia sudah mau ikut berenang. Kemarin, saat sedang berjalan-jalan di mall, Wira meminta dibelikan kacamata renang. “Biar mata Wira nggak perih pas berenang,” katanya. Ari belikan, dengan janji Wira akan rajin berenang dan senang berenang. Anaknya seneng banget, sampe kacamatanya nggak mau dilepas semaleman, hahaha.

    Selamat berenang, nak. Latihan yang rajin ya.

  • Deactivate IFTTT

    IFTTT (If This Then That) itu semacam… Apa ya, servis kalo “saya melakukan ini, hasilnya ini”. Jadi semacam, aduh bingung ini jelasinnya soalnya saya juga kurang paham teknisnya, oke ini aslinya dari bahasa pemrograman IF THEN. Jadi kalo saya naro foto di Instagram, IFTTT ini akan naro gambar yang sama juga di blog saya ini. Ya sebenernya cukup jelas sih ya, soalnya kan keliatan juga di sini, hahaha.

    Nah lalu kenapa di-deactivate? Sebenernya simpel: Saya ga suka hasilnya di tampilan handphone/mobile. Fotonya nggak bisa menyesuaikan dengan besarnya layar itu lho. Jadi gambarnya guede dan teksnya tetep cuilik-cuilik.

    Selain Instagram, saya juga gunakan fitur IFTTT untuk Pocket – WordPress, tapi sama aja ini saya juga kurang suka. Karena tautan/link-nya nggak kebuka. Sekalinya ada link itu ke websitenya IFTTT. Kan nganuh.

    Jadi sekalian saya hapus aja semua, hahaha. Saya juga ngerasa selain pengulangan/redundant, ini juga seperti saya itu, mmmmm, curang gitu ga sih? Kaya, saya sebenernya ga ngeblog, tapi konten blognya terus ada karena saya apdet dari media sosial lain. Ya sebenernya yang ngerasa gitu sih saya aja ya, hahaha. Kalo ada yang seperti itu (konten ditarik dari media sosial lain) ya nggak apa-apa. Kan masing-masing orang ada pilihan sendiri-sendiri.

    Dan ya, ini seperti janji saya yang ke-83295734203942 kali untuk rajin ngeblog. Saya sendiri suka merasa gimana ya, soal ngeblog ini. Bukannya nggak ada bahan (bahan komentar dari saya mah banyak), tapi saya rasanya kok makin ke sini makin ragu-ragu untuk ngeblog soal banyak hal — terutama soal anak. Saya parnoan, dan saya nggak pengen terlalu ngebuka kehidupan pribadi Wira dan (Insya Allah) adiknya ke blog (walopun saya tau yang baca blog ini juga ga banyak-banyak amat). Ironisnya, saya nulis banyak soal Wira di Path saya, huhu.

    Kadang saya kangen dengan rasa ketidakpedulian saya akan ngeblog soal apapun di blog saya jaman dulu, hahaha. Bahkan hal paling sesepele tugas kuliah pun saya tulis. Opini atau rasa setuju/tidak setuju saya akan satu hal ya saya tulis aja hayu. Mungkin karena makin tua dan makin meluasnya media sosial beserta kasus-kasusnya itu bikin saya makin merasa “udah lah, simpen aja opini lu buat diri lu sendiri, Kap…” Ya memang musti baik-baik milih topik sih ya, hahaha.

  • Ngeblog di… Path? WordPress?

    Kadang saya bertanya-tanya kenapa yang namanya ngeblog itu kok ya malas sekali. Padahal dibilang “nggak nulis panjang-panjang lagi sejak ada Twitter LOL” itu ya nggak juga. Saya tetep nulis puanjang-puanjang di Path dan biasanya bikin saya sendiri ngebatin, “ahelah, sekalian aja ditaro blog, Kap…” Tapi yang bikin saya heran adalah, kenapa kalo nulis panjang di Path itu saya betah sedangkan nulis di WordPress app itu saya ga betah ya?

    Apa karena tampilannya kah… Sotoynya saya, karena font di Path itu lebih kecil — dan buat saya jadi lebih enakan dibaca (saya penggemar ukuran font kecil, hahaha) — dan warna merah. Oke, ini agak ajaib tapi… Entah ya, kalo di app WordPress itu tulisan font gede-gede, warna biru kalem malah bikin saya bingung mau nulis apa, hahaha.

    Sebenernya ada juga sih isu teknis yang bikin saya agak malas menggunakan app WordPress: uploading pictures. Memang lebih enak ya kalo ngeblog dari hape kalo pake foto karena kan kasarnya tinggal cekrek kamera lalu upload. Nah, masalah teknis di app WordPress ini, seringnya foto yang di-upload itu nanti dinyatakan/ada notifikasi ga ke-upload lalu kepaksa lah upload foto yang sama lagi dan pas cek di tab Media… Eng ing eng, nongol dong beberapa file foto yang sama. Kan kesel. Masalahnya, ini masalah udah ada dari lama dan udah sering diangkat di forum para pengguna tapi ya masih ada aja.

    Ya semoga aja nanti isu teknis ini bisa cepet diatasi. Untuk ngeblog, memang musti buka laptop ya, hahaha (lebih nyaman juga sih ngetik pake laptop, karena minim typo, hehe)

  • Next project: Intermediate Theme Developer

    I want to develop themes that sing praises for the 2000s. I always feel we could have a bit more 2000s-era whimsy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Post-Rock. Gregorian. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre. “Love is Love“.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com