• His Wife

    There are times when we remember something unpleasant from our past. Mostly, it came out of the blue. For some, it’s a trigger and might cause panic attack; for others, it’s “nothing more” than a lump in the chest and some kind of selfish gratefulness of passing the horror.

    Just now I’m watching TV series ‘Criminal Minds’ (season 10 episode 15) and suddenly I remember my ex-boyfriend.

    Not specifically him, though.

    His wife.

    I don’t know his wife. I never meet her.

    But I wonder, how is she?

    I was in a really toxic relationship with my ex back then, and it went to some kind of abuse. At first, physical abuse. Then, mental abuse.

    I remember some of his words: “why do you have to make things worse? Why don’t you calm me down?! Why can’t you make things perfect?! It’s all your fault!”

    (And those words were uttered on a scene in the current episode of ‘Criminal Minds’ I’m watching, so yeah, it’s quite a trigger)

    Now I’m wondering how is his wife.

    I pray for her to have a safe and happy life.

    Most ultimately; safe life.

  • IMG_5222

    It’s my life. I’m always livin’ on a prayer — then I met you.

    Alas!

    You give love a bad name, they said. You are wanted dead or alive — on a bed of roses. Angry officials, shouting from their high chairs. Pointing fingers. You tainted love’s pure name, they said.

    But what is love, you cried back.

    Is love pure?

    Or can you find love in the darkest alley, in the dirtiest ditch, in the eye of girls selling their bodies under the dim lamps of Las Vegas?

    Can you find love on a mother’s cold dead eyes, while her three-year old baby washed ashore on Turkey beach? Can you find love on the eyes of seventy-one immigrants, rotten away and nearly forgotten by the media, on a roadside at Austria?

    Can you find love on Kim Davis, when she refused to celebrate love of loving people?

    Is that love?

    Or can you find love through Brandon’s cold camera lens, as he captures the stories of humanity on his Humans of New York? With thousands and thousands of cold texts, typed from shiny smartphones and gadgets. Each word, laced with heat of passion. Passion of humanity and better future.

    Have a nice day,” I told you, “I’ll be there for you,” even when you’re on a runaway.

    Thank you for loving me, and giving me a glimpse on blaze of glory. It’s beautiful. Really beautiful.

    Even though it leaves a bad medicine taste aftermath on my tongue. But the beauty is there. I am drowned.

    I will never say goodbye to you. Never.

    Though this ain’t a love song, I know you want to make a memory. I know you will.

    Oh, I’m sorry. This is a love song. This is a love song for me, for you, for all of us. For anyone who care to listen. Under the screams of injustice, the bloodbath of religions and wars, the salutations of tyrants and dictators — this is a love song.

    You told me once, “we weren’t born to follow.” You laughed, “are you seriously going to follow these people — with blood on their hands. Those innocent souls, their bloods laid bare on these dirty politicians yet nobody cares! Nobody pointed it out! These people who equally killing thousands of souls, making hundreds of people wishing to die even before Death giving them a visit, actually have a nerve to talk about humanity and social justice! Ha!”

    In these arms, we have weapons. The blood is running rampant, pulsating with life. We are leaders.

    What about now, I asked you. Because we can. We can be leaders. We can be the heroes of our own stories.

    Hallelujah!

    You and I. Our freedom. Our life. Our rights.

    My freedom. My life. My rights.

    Are born to be my baby.

    It will be born to be your baby.

    It will be born to be younger generation’s baby.

    — Kuala Lumpur. September 2015

  • Buku Yang Bisa Dibaca Berulang Kali

    “Kap, lu kan udah punya mangascan-nya…”

    Itu komentar teman saya ketika dia ngeliat komik ‘Monster’ karya Urasawa Naoki yang barusan saya beli — yang berujung uang tabungan saya mendekati ludes (dan saya baru tau kalo harga komik terbitan Viz Media di sini lebih mahal dari harga selembar kemeja Mango ?)

    Iya. Saya punya mangascan-nya. Saya juga tahu akhir cerita bagaimana (dan rasanya tetep pengen banting meja setiap cerita ‘Monster’ berakhir).

    Tapi saya ingin sekali punya komiknya. Komplit.

    Komik ‘Monster’ karya Urasawa Naoki adalah salah satu buku yang saya bisa baca berulang-ulang kali.

    Selain ‘Monster’, ada juga ’20th Century Boys’ (yang diikuti ’21st Century Boys’). Diikuti ‘Pluto’. Lalu ‘Master Keaton’.

    Lalu ‘Komik Peradaban’ karya Larry Gonick. Dibaca berkali-kali pun nggak bisa bosan. Saya sampe berharap satu hari ‘Komik Peradaban’ ini bisa jadi buku teks resmi untuk pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, hahaha.

    ‘V for Vendetta’ karya Alan Moore. Teman saya, Ismet, berkomentar, “[V for Vendetta] itu bukan komik. Itu karya tulis filosofis.”

    ‘Good Omen’ karya Neil Gaiman dan Terry Pratchett. Ceritanya luar biasa kacau dan ramai (pemburu penyihir naik skuter butut bareng nenek-nenek? Ada. Malaikat ngeles ketika ditanya Tuhan? Ada. Salah sangka antara grup pemotor Harley-Davidson dengan Four Horsemen? Ada.)

    Dan yang terakhir, dan ini sebenernya favorit saya setelah ‘Monster’ dan ‘Master Keaton’ (tiga karya ini ada di urutan puncak saya) — ‘The Name of The Rose’ karya Umberto Eco.

  • Belajar kembali mengenai situs yang nyaman dan enak dibaca

    Readable text affects how users process the information in the content. Poor readability scares readers away from the content. On the other hand, done correctly, readability allows users to efficiently read and take in the information in the text.

  • Perpanjang passport di KBRI Kuala Lumpur?

    Sebenernya ini kejadian udah lama — beberapa bulan lalu lah. Tapi saya rasa enaknya saya tulis aja di sini kali ya? Siapa tau ada temen-temen sesama WNI yang sedang berdomisili di Malaysia dan berniat memperpanjang passport.

    Biasanya pertanyaan utama itu satu: “LAMA NGGAK?”

    NAH. INI DIA NIH.

    Diitung sama antri di KBRI? Luama banget.

    *digaplok*

    Jadi gini. Ini dilema juga. Sejak pemerintah Indonesia mengeluarkan aturan biometrik untuk passport WNI, ini bikin proses yang sebenernya dulunya memakan waktu 3 jam, jadi… 1 bulan.

    Prosesnya antara Malaysia – Indonesia yang sebenernya lama. Jadi ya gimana yaaaaa… (sebenernya nggak mau lah ya ngomongin yang gimana-gimana soal pemerintah kita; tapi ya gimana… Maaf ya pak, bu, kalo ngebaca ini. Sekedar menyampaikan isi hati yang paling dalam *tsah*) Jadi proses biometrik ini cuma bisa 300 orang per hari.

    Yang ngantri di KBRI? Macem wafer Tango sekardus. Ribuaaaaaaan.

    Soal lama proses, ya udah lah. Kita bisa terus ngasih masukan ke pemerintah Indonesia supaya makin baik — dan saya percaya, akan makin baik kok. Insya Allah makin gampang liat orang sengklek di pemerintahan supaya kita hujat bareng-bareng dan makin gampang juga liat orang baik di pemerintahan buat kita dukung bareng-bareng.

    “Do they like me in Indonesia?”

    “Yes. Highly. Indonesians love mee lah ya pastinya.

    Apa? Me itu mi kan? Noodles?

    Oh. Bukan?

    Saya kira…”

    *hush!*

    Jadi ini pengalaman perpanjang passport suami saya di KBRI. Passport dia abis masa berlaku kalo ga salah Juni atau Juli 2015 gitu, dan dia perpanjang passport bulan Februari (pokoknya sebelum Ramadhan aja deh.) Ini juga catatan buat temen-temen yang merantau: Pantau kapan masa berlaku passport abis. Dan perpanjang dari jauh-jauh hari. Ya proses perpanjangannya aja lama. Dan abis perpanjang passport harus memperbaharui visa juga kan?

    Jadi kita pergi lah ya ke KBRI Kuala Lumpur di Jalan Tun Razak. Seperti biasa, rame. Ramenya rame banget. Nggak heran lah ya, soalnya kan Malaysia juga negara tujuan utama temen-temen TKI dan TKW. Jadi WNI di Malaysia ya emang buanyak buanget.

    Nah, apa aja sih yang harus dibawa ketika perpanjang passport?

    1. Passport lama.
    2. Fotokopi passport lama (halaman depan/identitas dan halaman visa)
    3. Memiliki izin tinggal di Malaysia selama lebih dari 6 bulan
    4. Membawa fotokopi IC majikan sebanyak 2 (dua) kopi (untuk pembantu rumah/baby sitter), surat rekomendasi dari perusahaan/universitas/sekolah (untuk ekspatriat/pekerja non-ekspatriat/mahasiswa/pelajar) dan fotokopi Expatriate Card/Student Card (untuk expatriat/mahasiswa/pelajar).
    5. Untuk pekerja sektor non-formal (maid/babysitter) harus mengisi form kontrak kerja

    Soal dokumen ini sebenernya rada simpang siur. Kata Ari, sebenernya ga terlalu dibutuhkan — cuma butuh fotokopi passport aja (poin #2). Tapi ya buat jaga-jaga ya. Yang penting mah komplit dulu ajalah.

    Sampe di KBRI, ada beberapa loket. Ada loket fotokopi, loket pengambilan pasfoto, dan loket informasi. Nah, untuk alur informasi di KBRI KL emang masih kurang sip ya. Ada tapi lumayan membingungkan buat temen-temen yang mungkin baru pertama kali dateng ke KBRI. Bisa tanya ke loket informasi, dan nanti dapet informasi yang jelas. Ibu dan bapak di loket informasi baik-baik kok.

    Waktu saya dan Ari ke sana buat perpanjang passport Ari, kita diminta antri untuk pengambilan nomer. Dateng lagi ke KBRI sebulan kemudian untuk foto dan ambil sidik jari.

    Nah, soal antri ini untung-untungan ya. Karena mayoritas yang antri di KBRI adalah temen-temen TKI dan TKW (blue collar), biasanya mereka itu kan izin kerja setengah hari. Jadi pagi-pagi mereka ke KBRI, baru siang mereka kembali bekerja.

    Jadi buat temen-temen yang kebetulan waktunya lebih lowong, saya nggak menyarankan untuk dateng ke KBRI pagi-pagi. Antriannya lebih lama. Kalo pas hari itu bisa ke KBRI jam berapapun, saya sarankan dateng ke KBRI siang atau sore (setelah jam makan siang). JAUH lebih kosong.

    Udah dapet nomer, pulang deh. Di kertas yang bertuliskan nomer kita itu juga ada tanggal kita harus dateng kembali ke KBRI untuk cap jari dan pas foto.

    Sebulan kemudian…~

    Ke KBRI ku kan kembaliiiiii~

    Nah, ini yang agak ruwet lagi.

    Jadi, kita sih iya pegang nomer antrian. Tapi sistem antriannya jadi panggil nama. Nah ini yang kurang enak — apalagi yang bawa anak kecil. Kasian kalo laper atau perlu ke tempat lain, tapi ga bisa ngira-ngira kapan dipanggilnya.

    Penyebabnya? Ya penerapan sistem biometrik yang baru diimplementasikan dan staf KBRI juga kepaksa melakukan apa yang bisa dilakukan.

    Jadi karena biometrik cuma bisa memproses 300 orang sementara yang antri ribuan orang, banyak dokumen yang numpuk dan nggak jelas lagi urutannya. Makanya pake sistem panggil nama. Jadi mohon bersabar ya temen-temen semua. Tapi ini kejadian bulan Juli 2015 lalu, dan Ari bilang kalo pas dia ambil paspor kemarin malah udah jauh lebih bagus pelayanannya (“ada bapak-bapak abis ambil nomor antrian langsung foto. Ada mbak-mbak yang abis ambil foto bisa langsung ambil passport.”)

    Selepas Ari foto dan ambil sidik jari, dateng lagi ke KBRI tiga hari kemudian. Dan antri untuk pengambilan passport. Selepas itu, selesai deh urusan perpanjang passport.

    Jadi supaya lebih jelas ya:

    1. Datang ke KBRI
    2. Isi formulir passport/SPLP (tersedia di KBRI. Gratis)
    3. Antri pengambilan nomor untuk pas foto dan sidik jari
    4. Kembali ke KBRI sebulan kemudian
    5. Antri pas foto dan sidik jari
    6. Kembali ke KBRI tiga hari kemudian
    7. Ambil passport

    Untuk biaya, passport 24 halaman biayanya RM 30 dan passport 48 halaman biayanya RM 85. Plus tambahan biaya RM 17 untuk dokumen berbasis biometrik.

    Untuk daftar lebih lengkap beserta download dokumen yang dibutuhkan, bisa diliat di website KBRI Kuala Lumpur.

    Sekali lagi mohon diingat ini pengalaman bulan Juli 2015 ya. Siapa tau — dan semoga aja — udah makin membaik (semangat ah, bapak dan ibu di KBRI Kuala Lumpur!) Yang jelas, jangan sampe ada dokumen yang terlupa. Ribet entar ngambilnya.

  • I’ve been noticing some blogs that I frequently visit that they have update logs on it. Something like “added page XYZ on (date)”, and so on.

    My FOMO has been screaming for me to follow suit, hahah.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer