• Plus dan Minus Konmari

    Kemarin pas lagi ketemuan di Jakarta, ngobrol soal Konmari method sama Nat dan Andina. Di socmed, Anien nanya soal plus dan minus Konmari method, jadi ta’ tulis sini ya ? Sekalian berbagi, hahaha.

    Sebelumnya, pengen bilang dulu Konmari itu apa dan… Apa ya, ciri khasnya gitu.

    Konmari itu metode bersih-bersih dan beres-beres yang disusun oleh Marie Kondo. Ada artikel yang pernah bilang bahwa Konmari ini sangat “utopia”. Jepang, dengan paham zen dan minimalisnya, itu digambarkan dengan Konmari ini.

    Nah, Marie ini dulunya pernah menjadi pendeta di kuil; jadi pola pikir dia dan Konmari ini mendekati ke Shinto dan zen. Untuk beberapa orang, terutamanya orang barat yang cenderung skeptis, pendekatan Marie ini kaya “orang gila” (“so I have to talk to my sofa???”) Tapi kalo ngerti prinsip dan pemikiran orang Jepang yang berdasar Shinto dan/atau Buddhisme, Konmari ini sangat ‘jelas’.

    Karena perspektifnya ini, metode Konmari nggak bisa dipaksakan ke orang lain. Marie sendiri bilang kalo bukunya dia itu sebaiknya dibeli kalo pembelinya emang mau, jangan karena hadiah atau “eh ini buku bagus lho!”

    Sekarang sisi plus dan minus Konmari ya. Minusnya dulu.

    Minus:

    • Kita ga bisa minta bantuan orang lain, apalagi keluarga, saat beberes. Malah keluarga, terutama ibu, nggak boleh ikut campur sama sekali. Biasanya mereka bakal, “aduh tapi ini kan sayang dibuang!” dan ngebuat proses decluttering kacau balau. Kalopun butuh bantuan, butuh orang yang sepaham dan manut-manut weh.
    • It takes quite some time to recognize if a stuff “sparks joy” or not. Apalagi kalo kita cenderung, “ini kan cuma barang.” Konmari ini, seperti yang tadi gw tulis di atas, sangat berhaluan zen dan Shinto. Sangat menghargai barang dan makhluk di muka bumi ini.
    • Karena poin di atas, jadi ada beberapa yang membutuhkan waktu lama dalam beberes (biasanya 6 bulan). Dan decluttering ini ga bisa dicicil. Misalnya lu mau rapiin pakaian, ya pakaian segabrek-gabrek lu kumpulin dan lu pilah dah tuh.
    • Konmari ini menyuruh orang-orang ngebuang dokumen atau kertas karena makan tempat. Mengingat gw barusan heboh nyari kartu garansi AC, kayanya langkah ini nggak bisa diaplikasikan secara total.
    • Gw pribadi ngerasa metode ini ga cocok untuk orang yang sentimentil/menyimpan memento. Ada orang yang bisa dengan gampangnya ngebuang surat mantan (misalnya, gw) ada yang nggak bisa. Kalo lu orang yang suka menyimpan kenang-kenangan, Konmari ini mungkin agak… Bikin jantungan.
    • Cara melipat pakaian ala Konmari ini sebenernya trik lama.

    Plus:

    • Cara melipat pakaian ala Konmari ini sebenernya trik lama dan ga salah buat kita coba. Dan cara ngelipat pakaian ini bikin lemari pakaian bertahan rapi lebih lama dari biasanya (dulu dalam waktu seminggu lemari pakaian udah ga berbentuk. Sekarang, rapiin lemari cukup 2-3 bulan sekali)
    • Lebih… Bahagia. Hepi. Karena barang-barang yang kita ‘kepaksa’ simpen hanya untuk alasan sentimentil atau dibuang sayang udah bener-bener ga ada lagi. Benda pertama yang gw buang jauh-jauh adalah buku diary jaman gw SMP (HAHAHAHAHAHA)
    • Gw lebih ngeh barang-barang yang gw butuhkan dan ga belanja dobel-dobel lagi hanya gara-gara nyimpen kotak tisu ketutupan mie instan. Gw bisa liat semua barang-barang gw dan Insya Allah ga ada yang mubazir.

    Nah, Konmari ini bikin situasi dilematis.

    Saat lu pengen ikutin metode ini, akan ada keinginan luar biasa untuk beli kotak-kotak penyimpanan barang (storage). Marie bilang bahwa kotak sepatu juga bisa jadi kotak penyimpanan, tapi plis deh, kadang kotak sepatu udah bapuk dan mbredel semua.

    Kalo beli storage system, gw sarankan ga perlu yang muahal-muahal amat. Bisa beli di IKEA atau Daiso. Gw barusan rapiin laci make-up gw dan storage system-nya pake kotak plastik bekas makanan delivery.

    Nah, semoga ini menolong ya. Selamat beres-beres!

  • Salah satu ciri yang kesannya “hamil banget” itu muntah-muntah di pagi hari/morning sickness — yang sebenernya nggak bener-bener tepat.

    Kan suka ada becandaan geje tu, kalo ada cewek pagi-pagi bilang, “ih, gw kok mual ya…” lalu ada yang nyeletuk, “hamil kali, hihihi.”

    Penyebab utama mual-mual saat hamil itu karena hormon HCG dan progesteron yang mendadak melejit naik sehingga ngeganggu keseimbangan hormon di badan, dan direspon dengan reaksi alami: Muntah dan mual. Hormon-hormon ini sendiri ada untuk melindungi si bayi dan si ibu karena janin yang ada di dalam rahim masih mengambil nutrisi makanan dari darah si ibu di trimester pertama (jadi buat para ibu-ibu yang khawatir, “aduh, ini kok gw muntah-muntah terus ya? Bayi gw bakal dapet nutrisi ga ya?” karena masih muntah di trimester pertama, Insya Allah si bayi gapapa. Kecuali kalo udah sampe hyperemesis dan sangat mengganggu, bisa minta obat dari dokter.)

    Nah, morning sickness ini belum tentu kejadiannya di pagi hari aja — walopun umumnya terjadi di pagi hari ketika si ibu bangun tidur karena perutnya masih kosong/belum ada makanan. Morning sickness bisa terjadi di jam apapun dalam satu hari.

    Penyebab lainnya, yang biasanya jadi pemicu mual, adalah acid refluxAcid reflux ini seperti asam lambung yang “naik” ke organ esophagus (apa tu ya… Tenggorokan?) Karena ini asam, jadi ada rasa panas dan seperti terbakar di leher. Bahasa lain dari acid reflux ini adalah heartburn.

    Apakah acid reflux ini bisa dialami orang-orang lain yang nggak hamil? Bisa. Makanya ada ucapan, “jangan tiduran selepas makan” atau “jangan makan sambil tiduran”. Asam dari lambung bisa kedorong sampe ke tenggorokan dan itu bikin perasaan ga nyaman/mual. Hal ini juga biasa terjadi ke penderita maag.

    Untuk para ibu hamil, acid reflux terjadi karena katup dari lambung ga sekenceng biasanya. Kenapa ga kenceng, karena hormon progesteron yang dihasilkan saat hamil itu membuat otot-otot di organ dalam menjadi lebih lemas supaya mudah digeser oleh rahim saat si adek bayi makin membesar. Ini juga yang bikin penyebab susah BAB/konstipasi di ibu hamil karena usus besar jadi “malas” bekerja.

    Omong-omong morning sickness, saya ingin berbicara soal kebiasaan masyarakat yang cenderung “menghakimi” ibu-ibu hamil.

    “Ditahan aja dong! Emang harus ya mual gitu?”

    “Ah, cemen lu muntah-muntah. Sabar aja, ntar juga lewat!”

    Paling menyebalkan ketika yang ngomong gitu belum pernah hamil. Wah, udah deh combo sebelnya. Langsung didoain dapet jalan tol blong kosong ke neraka.

    Teman saya, Icha, cerita pengalaman pribadi dia. “Dulu gw suka ngomong gitu ke temen-temen gw yang hamil — “sabar aja, ntar juga lewat…” — nah giliran gw hamil, gw muntah-muntah hebat dua bulan, bok! Diem deh gw sekarang.

    Percayalah ya, kalo boleh memilih, SEMUA ibu-ibu hamil di dunia ini pasti menginginkan kehamilan yang bebas-muntah-bebas-mual-bebas-khawatir. Tapi kenyataannya nggak begitu, bukan? Hormon, fisik, dan psikis ibu berperan penting di sini, dan setiap individu itu berbeda-beda. Ada yang nggak pake mual dan muntah sama sekali, ada yang SELAMA KEHAMILAN (iya, sampe si bayi lahir) itu mual dan muntah terus-terusan.

    Nah, jadi apa yang kita bisa katakan atau bantu ke ibu hamil yang mengalami mual dan muntah?

    Pertama, nggak usah komentar. Ini kasar dan seksis, tapi saya mau bilang: Terutamanya kalo anda ini laki-laki dan/atau belum pernah hamil. (Iya, ada kok cowok-cowok yang mulutnya mesti dijejelin cabe rawit sekilo karena doyan komentar, “mualnya ditahan aja lah! Gitu aja kok ga bisa!”) Iya, mungkin ibu/sodara/adik/kakak/tetangga/buyut/cicit/cucut/cecet/cocot anda pas hamil nggak mual-mual hebat apalagi muntah, tapi jangan samaratakan semua wanita di lingkungan anda. Bersimpatilah, wanita itu sedang membawa calon manusia di dalam tubuhnya. Bukan hal yang nggak mungkin ibu anda juga mengalami hal yang sama saat sedang mengandung anda.

    Kedua, lebih baik langsung membantu. Mungkin anda tahu bahwa sepupu anda saat hamil mengurangi rasa mualnya dengan meminum air hangat dengan perasan lemon. Ketika ada wanita di dekat anda yang mengeluh soal mual dan muntah di kehamilannya, anda bisa membantu dengan berkata, “mbak, coba konsumsi air anget pake lemon. Sepupuku nyobain itu dan sukses sih…” atau membantu mengambilkan air hangat. Itu jauh jauh jauh lebih membantu. Bahkan ucapan ‘simpel’ seperti, “aduh, pasti rasanya nggak enak banget ya mual-mual gitu. Semoga mual dan muntahnya cepet hilang yaaaa, semoga adek di perut dan mbak tetep sehat selama kehamilan,” itu sangat menyenangkan lho. Insya Allah doa yang baik akan didengar dan kembali ke si pengucap doa.

    Nah, kemarin itu rasanya… Ya Rabbi, pengen marah tapi ya gatau mau marah ke siapa.

    Di saya, acid reflux ini otomatis memicu rasa mual dan muntah. Jangankan sampe muntah, rasa terbakar di tenggorokan udah cukup bikin saya sebal dan terganggu.

    Akhirnya saya iseng cari di Google dan tanya-tanya ke teman-teman saya di group WhatsApp ibu-ibu. Alhamdulillah banyak saran yang saya terima dan sangat membantu. Minum air putih hangat, coba hindari makanan pedas dalam jangka waktu sementara, dan hindari makanan yang menyebabkan acid reflux. Nah, di saya, makanan/minuman yang menyebabkan acid reflux rupa-rupanya kopi dan teh. Untuk kopi, saya udah stop dari awal kehamilan (karena saya mendadak mual meminum kopi), tapi untuk teh… Whoaaa, agak berat rasanya, hahaha.

    Posisi tidur dan duduk juga sangat menentukan. Untuk menghindari gerakan asam dari lambung ke tenggorokan, sebaiknya posisi badan bagian atas/dada saat tidur lebih tinggi dari perut dan kaki. Jadi lah saya menumpuk empat bantal di tempat tidur untuk mengganjal punggung saya. Alhamdulillah agak mendingan rasanya tadi pagi saat bangun.

    Saya juga berusaha mengatur pola makan untuk menekan rasa mual dan acid reflux ini. Jadi kalau biasanya makan besar tiga kali sehari, saya saat ini bener-bener seperti sapi: Ngunyah terus. Tapi tetep makanan yang saya konsumsi juga nggak bisa seenak saya, hahaha. Biskuit gandum tawar dan buah itu pilihan utama, terutama pepaya. Pepaya dingin yang diberi perasan air jeruk nipis cukup mendinginkan tenggorokan saya yang kadang terasa panas, plus pepaya itu cukup netral untuk saya. Ingin beli semangka, tapi saya terlalu malas memotongnya kecil-kecil. Jadi pola makan saya saat ini cukup sering, bisa setiap dua jam sekali saya makan sesuatu — tapi dalam porsi yang kecil.

    Semoga aja mual dan muntah ini segera berhenti ya, hahaha. Teman saya, saat saya ceritakan kekhawatiran saya karena harus makan terus, berkata, “Insya Allah ini untuk trimester pertama aja. Nggak usah dipikirin masalah makanan yang dimakan. Nanti trimester kedua ketika udah bisa makan banyak, bisa mulai diatur asupan gizi dan nutrisinya.” Amiiiin, semoga kehamilan ini berjalan lancar dan sehat.

  • Waktu saya liat hasil tes kehamilan yang menyatakan positif, saya kaget.

    “… ha gw hamil nih?”

    Soalnya seperti yang saya bilang di tulisan terdahulu, saya nggak merasakan tanda-tanda hamil; dan jujur aja, selepas itu saya ketakutan (sampe curhat di Snapchat coba ya…)

    “Ini bener ga sih hamil? Kok nggak mual? Kok bisa makan segala macem makanan? Kok biasa aja? Aduh jangan-jangan ovarian cyst?”

    Nah, ada satu hal yang saya lupa: Be careful with what you wish for.

    Baru deh beberapa hari ini saya mual-mual, hahaha. Kemarin masak sop buntut untuk makan malam berujung saya mual-mual hebat dan membuat saya sadar kalo saat ini saya nggak bisa makan daging (kecuali ayam dan ikan).

    “Lho kalo nggak mual pas hamil bukannya enak ya Kap?”

    Iya. Dan itu bikin parno, hahaha. Ya itu, “gw hamil ga sih?”

    Agak masokis juga keliatannya ya, hahaha. Justru ga enak mual-mual dan perasaan energi sampe minus itu malah bikin rasa tenang di hati.

    Yang baru ketauan ya si kunyil di perut ini nggak suka sama daging, bau Lifebuoy warna kuning (lemon), dan ayahnya. Tapi sayang banget sama abangnya (Wira).

    “Di perut aja ga suka sama ayah. Ntar kalo udah lahir juga nyariinnya ayah terus!” — Ari. Lagi kesel karena anak di perut ga suka sama dia (lagi. Iya, lagi. Waktu hamil Wira juga saya sebel banget sama mukanya Ari, apalagi kalo dia lagi tidur, hahaha.)

  • “Wira punya adek bayi!”

    Wira: “Di perut ibu ada adek bayi?”

    Gw: “Iya.”

    *Wira langsung angkat kaos gw*

    Gw: “WOY GA KELIATAN WOY”

    Wira: “Mana adek bayi ga keliatan…”

    Gw: “… Gini deh. Wira punya paru-paru kan?”

    Wira: “Iya.”

    Gw: “Nah, paru-parunya kan di dalam badan Wira. Ga keliatan dari luar. Ya kaya gitu.”

    Wira ngangguk-ngangguk.

    Ga lama, dia ke kamar.

    Keluar kamar, bawa-bawa boneka teddy bear dia.

    Boneka teddy bear dimasukin dalam kaosnya.

    Wira: “IBUK! WIRA JUGA PUNYA ADEK BAYI DI PERUT KAYA IBUK!”

  • Rumah Dijual

    Waktu denger Ari dan gw memutuskan jual rumah dan mobil di Jakarta, banyak yang kaget. Terutama keluarga.

    Hah?? Dijual?? Apa ga sayang tuh? Nanti kalo balik ke Indo gimana? Nanti kalo kemana-mana gimana? Ih nanti harga rumah tambah mahal lho!

    Biasanya sih itu yang ditanyain dan dijadiin argumen; tapi percayalah, ada jawabannya (iya, termasuk harga rumah yang katanya makin mahal).

    Alasan pertama, bisa dibilang sangat religius (?)

    Riba.

    Sistem kredit di Indonesia itu masih pake sistem riba. Bunga berbunga. Satu hal yang dibenci setengah mati sama Islam. Kenapa? Soalnya bikin susah yang udah susah, dan bikin kaya yang udah kaya. Sekalinya mau lunasi lebih cepet, malah ditambahin biaya nganu-nganu. Kan nganu.

    “Tapi Kap, gw masih bayar KPR nih! Cicilan mobil! Cicilan kartu kredit!”

    Ya gapapa. Beneran. I won’t judge you. At all.

    (Kecuali kalo lu suka nyelak antrian, buang sampah sembarangan, dan ga cuci tangan abis pup. I’m judging you to hell and back.)

    I won’t judge you.

    Sistem kreditnya itu udah ada dalam sistem negara kita. Mau ga mau, kita kepaksa ikut. Ada memang pilihan syariah (dan ini ga terbatas buat muslim aja BTW), tapi itu juga masih sedikit. 80-90% sistem kredit Indonesia masih menggunakan kredit konvensional. Kalopun mereka bawa embel-embel “bank syariah”, percayalah, itu bungkusnya doang.

    Nah, karena ini personal sekali, jadi ini alasan yang kita ga pernah utarakan ke orang lain. Takut menyinggung. Tapi ya itu alasan utama.

    Kedua, kita ga tau kapan balik ke Indonesia — terutama Jakarta.

    Karena ga pasti, jadi daripada rumah rusak ga terurus ya mending dijual. Itu juga jual santai. Sempet nawarin buat dikontrakkan, tapi rejekinya ada di jual. Ya sudah. Alhamdulillah sekalian lunasin tagihan segala macem.

    Sayang? Ya… Ga tau juga. Kalo ditanya, “ih, apa ga sayang?” Emang itu rumah mau dibawa ke mana sih? Gw di KL, rumah di BSD. Disayang-sayang mau gimana kalo rumahnya berujung plafon pada ambrol, berdebu, dan lantai pecah-pecah?

    Ketiga, ini spesifik di mobil.

    Kok dijual?

    Ga tahan nyetir di Jakarta, men ? Mending naik taksi atau angkutan umum. Wira juga seneng naik bajaj (ketawa-ketawa heboh kena angin karena bajaj gapunya jendela) dan kagum banget betapa hebatnya angkot gapunya seat belt (beneran. Pertama kali naik angkot, anaknya nanya, “seat belt mana? Kok pintu ga ditutup?” ?)

    Keempat, Ari dan gw agak skeptis oleh anggapan “harga rumah pasti naik terus.”

    Kasarnya, itu slogannya Agung Podomoro buat nakut-nakutin aja.

    Akan selalu ada pasar properti baru, akan selalu ada rumah atau apartemen yang dibangun.

    Ya, harga rumah bisa sampe milyaran, tapi memang begitu bukan? Diembel-embeli lokasi dan akses dan apa lah.

    Ada yang namanya property bubble, dan satu saat bisa meletus. Kalopun ga, biasanya dijaga supaya ga meletus. Supaya harga ga jatoh-jatoh amat, harga dijaga supaya tetep ada pembeli dari kalangan menengah (pasar paling besar).

    Sale jualan tanah terjadi sebelum Lebaran, dan sale jualan emas terjadi setelah Lebaran — ilmu dari bapak pengemudi taksi ?

    Gw sama Ari Insya Allah lebih siap kalo ngontrak. Itu bikin gw untuk ga numpuk barang (hoarding). Mudik terakhir gw ke rumah orangtua di Purwokerto, gw ketakutan.

    Barang-barangnya BANYAK BANGET. Sampe barang-barang entah dari abad ke berapa setelah nabi Nuh lahir, masih disimpen juga.

    “Mah, ini buku sketsa aku jaman SD kenapa masih ada deh?”

    “Kan kenang-kenangan, non!”

    “Ih mah, gambar elek-elek begini bikin malu dibuang aja yaaaa…”

    “Yaaah, jangan dong!”

    Ad infinitum.

    (Makanya kemarin pas ketemuan sama temen-temen di Jakarta juga ngomong soal Konmari. Gara-gara isu penumpukan barang ?)

    Jadi ya… Gapapa kalo belum ada rumah, masih ngontrak, masih naik angkutan umum, atau apa lah buat teman-teman yang lain. Alhamdulillah kalo udah ada rumah, udah ada kendaraan, dan semua kebutuhan udah terpenuhi. Semua manusia ada rejekinya masing-masing, ada jalannya masing-masing.

    Yang penting, tetep jadi orang baik.

    Semoga kita semua dimudahkan rejekinya.

  • I have been stepping away from social media (Threads) little by little recently, starting with registering on Mastodon, and I genuinely enjoy their non-algorithm timeline. You will only see stuff from folks that you follow. That’s it.

    I am still around on Threads, though, but I limit myself to 10 minutes only.

    Earlier, I tried checking Threads. Trying to see what’s up.

    My goodness.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

Status Cafe Profile
  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer