Rey dan Tantrum


Jadi orang tua itu ya, kadang mau dibilang “ilmu”nya udah banyak juga tetep aja kelewat satu-dua hal. “Orang tua musti lembut,” “hukuman itu nggak efektif. Gunakan┬ápositive reinforcement┬ádan┬ánegative reinforcement.” Semacam itu lah.

Rey ini mulai memasuki usia dua tahun, dan seperti banyak tulisan mengenai perkembangan anak, ada yang namanya “Terrible Two” — yang sering diperhalus menjadi “Terrific Two”, karena anggapan “terrible” itu negatif dan nggak membuat keadaan menjadi lebih baik.

Gw memang berkesan membanding-bandingkan anak-anak lagi dan lagi dan lagi, tapi gw rasa ini perlu. Terutamanya untuk yang merasa kalo, “ah, kakak dan adik nggak akan berbeda jauh kok.” Wira ketika memasuki usia dua tahun adalah anak laki-laki paling manis yang pernah lu liat — dan jujur, itu karena gw amat sangat keras ke dia. Mungkin gw masuk ke klub Tiger Mom, dan itu sebab kenapa gw tau alasan Wira menjadi anak yang super manis, super penurut, dan nggak banyak tingkah.

Rey sangat berbeda dibanding abangnya. Gw mungkin bisa dibilang agak mendingan, nggak segalak dulu lagi, walaupun gw tetep galak. Tapi Rey ini memang ya… Rey.

Rey ini bocah yang ketika ditegur akan cemberut dan tetap melakukan kegiatan yang bikin dia ditegur. Nggak seperti Wira, Rey ini macam badak segala macam diterjang dan dikunyah. Kemarin gw hampir gelut sama dia karena gw musti menarik secara paksa kulit buah semangka dari tangannya Rey sebelum dia kunyah habis itu kulit semangka. Barusan pagi ini Ari bingung kenapa di mulut Rey ada lapisan putih mengelupas, dan baru ketahuan gw ketika gw pulang selepas mengantar Wira sekolah kalau Rey ternyata menggunakan lem batangan sebagai lipbalm.

Gw bisa sedikit membayangkan anak-anak ini gedenya nanti kaya gimana. “ADEK YANG MULAI! POKOKNYA ADEK YANG MULAI DULUAN! AKU UDAH BILANGIN LHO!”

Kemarin, Rey rewel hebat. Anak ini emang suka pake ancaman menangis kalo keinginannya dia ga diturutin (“keinginannya Rey” itu maksudnya “minta makanan untuk kesejuta kali”) tapi baru kali ini dia bener-bener… Serius. Serius nangisnya.

Gw sama Ari udah puyeng. Dari dimanis-manisin sampe ditegur keras (kalo ga mau dibilang “dibentak”). Gw bahkan sampe semi-menghukum Rey untuk duduk di kasur lipat di pojokan kamar. Gw tau, itu bukan tindakan efektif. Anak ini juga masih sangat muda; gw yakin dia bahkan nggak tau apa kesalahan dia. Yang dia tau adalah, dia frustrasi karena sebuah hal dan entah kenapa orang tuanya malah marah karena dia frustrasi.

Kami berdua, gw dan Ari, baru tersadar ketika sore hari.

Anak ini bosan. Kemarin kami libur Deepavali (Malaysia merayakan Deepavali tahun ini pada tanggal 6 November kemarin) dan kami memutuskan untuk seharian di rumah. Rey, dari senang-senang saja bermain Lego, menonton Wira bermain PlayStation, menonton acara TV di Disney Junior, ngemil makanan, sampe akhirnya bosan luar biasa di rumah. Gelisah dan frustrasi karena bosan, akhirnya dia memutuskan untuk merengek dan mencari perhatian kedua orang tuanya. 

Itu hal yang gw rasa menjadi tantangan ketika anak memasuki usia dua tahun. Banyak yang bilang kalau usia dua tahun itu entah kenapa anak sering sekali marah/tantrum

Anak kedua, tapi untuk pengalaman, semuanya serba berbeda dan serba pertama kali, hahaha.

%d bloggers like this: