• ‘Edgar Allan Poe’s Tales of Death and Dementia’ – illustrated by Gris Grimly

    Buat yang suka ngebaca karya klasik — terutama horor klasik — biasanya “kenal” dengan Edgar Allan Poe. Beliau ini adalah pengarang beberapa cerita horor klasik seperti ‘The Masque of Red Death’, ‘The Cask of Amontillado’, dan puisi ‘The Raven’.

    Dibilang horor supranatural ya nggak juga. Bukan horor macem ketemu vampir, jaelangkung, atau pocong. Lebih ke… Apa ya, horor yang disebabkan oleh pikiran kita sendiri.

    Banyak kritikus yang berspekulasi bahwa Poe sendiri mengalami gangguan mental seperti schizophrenia atau depresi, makanya karya-karyanya dia ya seperti itu; tema utamanya adalah kegilaan.

    And it’s pretty horrific, really.

    Saya menyukai karya-karya Edgar Allan Poe karena alasan itu: Horor yang kita alami sumbernya dari pikiran kita sendiri. The monster lies within us. Jadi ketika saya melihat novel grafis ini — eh, ini novel grafis bukan ya? Lebih ke novel dengan ilustrasi yang banyak sih. Err, buku bergambar? — saya langsung tertarik.

    Dan dari buku ini juga saya tertarik dengan ilustratornya: Gris Grimly.

    Mungkin, mungkin ya, kalau Poe masih hidup dan bertemu Gris, dia akan senang sekali, hahaha. Lukisan Gris Grimly itu… Ekspresif. Sangat ekspresif. Malah di beberapa karya, tampak sangat cute. Dia ini ilustrator yang SANGAT cocok untuk cerita-cerita dongeng klasik versi belum disensor Grimm Brothers, hahaha.

    Saya sebenernya pengen foto bagian dalam buku ini lebih banyak, tapi saya nggak nyaman dengan kemungkinan menyebarluaskan hak cipta tanpa ijin. Jadi seadanya ya.

    Di buku ini, karya-karya Poe yang diangkat adalah:

    1. The Tell-Tale Heart
    2. The System of Doctor Tart and Professor Fether
    3. The Oblong Box
    4. The Facts in the Case of M. Valdemar

    Saya sebenernya agak kecewa karena nggak ada cerita ‘The Cask of Amontillado’ dan ‘The Masque of Red Death’ — ‘The Cask of Amontillado’ sendiri saya baca pertama kali di majalah BOBO (kalo dipikir-pikir, morbid juga ya majalah anak-anak nerbitin cerpen orang ngebunuh dengan cara dikubur idup-idup…)

    Nah, tapi bukannya buku ini terus jadi buku yang saya nggak suka ya. Justru cerita yang saya suka banget itu ada dua: ‘The Oblong Box’ dan ‘The System of Dr. Tarr and Professor Fether’. Sedikit bocoran, cerira ‘The System of Dr. Tarr and Professor Fether’ ini saya rasa menginspirasikan film ‘Shutter Island’ yang dibintangi Leonardo DiCaprio.

    Ilustrasi Gris yang ekspresif dan tegas ini yang membuat saya menikmati karya Poe lima kali lipat. Apabila selama ini saya hanya bisa membayangkan seperti apa kejadian yang ditulis, ilustrasi Gris membantu saya membentuk visual horor yang saya selama ini nggak bisa bayangkan. Sangat direkomendasikan untuk pecinta karya-karya Edgar Allan Poe maupun pecinta buku bergambar dan novel grafis.

    The lunatics have most undoubtedly broken loose” — The System of Dr. Tarr and Professor Fether.

  • #catatanemak Perut Dipegang

    Jadi usia kehamilan saya saat ini sudah menginjak ke usia… Eeeh, 32 minggu? 33 minggu? Ya kisaran segitu lah. Mungkin udah 8 bulan ya itungannya? (lho kenapa jadi kamu yang nanya, Kap…)

    Ketika usia kandungan udah 7 bulan ke atas, biasanya perut hamil itu udah… Hamil banget. Maksudnya, udah keliatan hamil gitu. Nggak yang nanggung geje. Ya kecuali buat beberapa penumpang KRL Commuter Line atau Transjakarta yang langsung pura-pura tidur ya begitu liat ibu hamil atau manula naik kereta (heheh).

    Nah, soal perut hamil ini… Saya ini punya, err, apa ya bahasa Indonesianya? “Ketidaknyamanan”? Bahasa Inggrisnya itu “pet peeve“… Jadi saya itu paling geuleuh kalo ada orang nggak dikenal secara baik, bahkan keluarga — kalo saya nggak kenal baik (alias bukan keluarga inti ataupun keluarga yang saya sering temui,) tiba-tiba megang perut saya lalu mengusap-usap perut saya sambil bilang, “waah, hamil nih yaaa…”

    Like, what is your problem? Kenapa mendadak perut saya kaya jadi hak milik publik? Kenapa nggak pada pegang perut sendiri aja? GENDUTNYA SAMA KOK *eh* *NGGAK GITU JUGA KAP* Kenapa harus menyentuh perut saya? IYA SAYA HAMIL. KENAPA HARUS PEGANG PERUT SAYA? KENAPA? KENAPAAAAHHHHHH?

    Iya sih, ada ibu hamil dan orang-orang yang nyaman dengan kontak fisik kaya gitu. Saya pribadi… Nggak. Saya sebagai individu aja kurang nyaman dengan kontak fisik mendadak. Jaman ngekos dulu, kadang temen kos saya kalo lagi ngobrol terus ketawa-ketawa suka tiba-tiba menepuk lengan saya, saya bisa kaget sampe ngeloncat menghindar. Atau tiba-tiba ada temen menggandeng saya, “eh, ke kantin yuk!” AYO KE KANTIN, TAPI JANGAN MENDADAK GANDENG SAYA BEGITU DONG. KAGET IJK.

    Nah, kebetulan ya selama saya di KL nggak pernah kaya begitu sih ya. Maksud saya, walaupun saya kenal baik dengan auntie yang jadi staf promosi di supermarket langganan saya, dia juga nggak yang ujug-ujug pegang perut saya. Tapi ya saya keinget dulu pas masih hamil Wira, usia kandungan udah 7 bulan, saya lagi di toilet di sebuah mall di Jakarta. Lalu salah satu stafnya mendadak jalan mendekati saya, *PLOK* naro tangan dia di perut saya, lalu BARU NGOMONG, “saya minta ijin pegang perut ibu ya…”

    MBAK. MBAK INI TANGANNYA UDAH PEGANG PERUT SAYA DULUAN BARU MINTA IJIN. NGGAK KEBALIK, MBAK?

    #ngeeeeng

    Ya saya gimana lagi selain diem kaget. Stafnya itu lalu kaya berdoa sedikit, mungkin mbaknya juga lagi berusaha hamil ya… Saya juga nggak tau. Ya… Saya juga bersimpati sih.

    Tapi… Pegang perut dulu baru minta ijin… *kraying*

    Terus lanjut dengan isu klasik ibu hamil yang udah usia kandungan 7 bulan ke atas.

    Kaki kram.

    Saya masih nggak apa-apa deh kalo kaki kram siang-siang pas saya lagi baca komik atau cuwawakan di grup WhatsApp gitu. Nggak apa-apa.

    Kalo tengah malem atau kebangun pagi-pagi gara-gara kram kaki, apa rasanya nggak pengen bunuh orang itu.

    Dan ini emang masalah klasik. Cara penanganannya adalah dengan konsumsi kalsium dan minum air putih secara teratur. Tapi ya tetep aja.

    Udalah saya sebagai ibu hamil itu kalo balik badan pas tidur udah kaya paus terdampar, pas balik badan mendadak *NGEK* urat kaki ketarik sakit minta ampun.

    *kray*

    Pernah sekali, urat kaki ketarik pas saya sedang shalat. Gusti Allah nu agung, rasanya nggak usah deh ditakut-takutin siksa api neraka. Bilangin aja, “kaki kram tujuh turunan selama di Neraka” udah dijamin pada tobat semua.

    Selain itu ada juga hal yang udah dijamin ada ketika hamil besar.

    Gampang banget pipis. Ngedip mata aja *bresss* ke toilet.

    Plus, janin di perut juga udah makin gede. Selain makin gede, makin seneng main pula. Saya suka curiga si adek ini nganggep kandung kemih emaknya jadi bola. Karena ada saat-saat ketika dia bergerak-gerak, lalu mendadak bagian kandung kemih saya terasa kencang, dan saya musti buru-buru ke toilet.

    Temen saya bilang kalo dia sampe menggunakan popok dewasa saat kandungan dia sudah di atas 7 bulan; ya saking seringnya bolak-balik ke toilet. “Gw batuk aja langsung kebelet, Kap…”

    Yaaa, Insya Allah kira-kira satu setengah bulan lagi lah ya si adek lahiran, hahaha. Kemarin saya tes gestational diabetes, Alhamdulillah hasilnya normal. Ihiy. Semoga si adek juga sehat terus sampe hari lahir nanti ya dek.

  • Bagaimana Cara Membaca Kandungan Produk?

    Kemarin saya kan nulis panjang lebar ya soal produk perawatan kulit beserta kandungan yang patut dihindari oleh bumil dan busui.

    Nah, saya keinget nih, satu hal yang biasanya sering bikin jiper kita sebagai konsumen dan seringnya *uhuk* dijadiin klaim oleh pihak perusahaan untuk menjual barang ke kita: Daftar kandungan produk.

    Saya pake contoh produk yang kemarin saya foto deh ya.

    img_1098

    Waduh, kandungannya kok nama-namanya ajaib-ajaib gitu ya? Ini pelajaran Kimia jaman SMU gimana nih, lupa semua. Anak IPS bingung ini bahasa planet mana ini *hehehe*

    Oke, pertama-tama, kita liat dulu susunan bahan-bahannya.

    Dalam daftar kandungan, zat atau bahan yang disebut pertama adalah bahan yang kandungannya paling banyak di produk tersebut. Teruuuuus sampe yang paling terakhir. Yang disebut terakhir? Ya yang kadar kandungannya paling sedikit. Setelah itu pun masih ada lagi, biasanya kandungannya sudah kurang dari 0.25% (? eh, atau 0.025% ya? Saya lupa…) dan dianggap nggak signifikan atau nggak berpengaruh di badan.

    Inget nggak, kisaran tahun 2006-2007 sempet ada kasus heboh kandungan formalin di pasta gigi yang mereknya luar biasa beken di Indonesia?

    Apakah iya, ada formalinnya? Iya.

    Tunggu, jangan kaget dulu. Formalin, walopun kesannya “ngeri banget deh itu kan buat ngawetin mayat” itu ya memang… Pengawet. Formalin di produk-produk perawatan tubuh/toiletries itu biasanya ya emang untuk mengawetkan produk supaya ga cepet rusak atau jamuran, apalagi di iklim tropis seperti Indonesia.

    Tapi, karena kadarnya yang sangat sedikit dan insignifikan di produk tersebut, jadi tidak ditulis oleh pihak produsen — dan memang sebenernya nggak perlu ditulis. Nah, kebetulan aja publik tahu dan isu itu diangkat, makanya akhirnya ditulis lah oleh pihak produsen.

    Jadi liat di foto di atas, bahan yang disebut pertama — aqua — alias air adalah kandungan dengan kadar paling banyak di produk sheetmask itu. Baru lah diikuti propylene glycol, sodium hyaluronate, dan lain sebagainya.

    Nah, kenapa ini penting? Jadi kita sebagai konsumen tau zat aktif apa saja yang signifikan di badan kita. Kasarnya, kalau tertera di daftar kandungan, berarti sedikit banyak berpengaruh di kulit kita. Ini penting untuk mengetahui zat yang sebaiknya kita hindari — seperti kandungan AHA/BHA, Retinol, dan lain sebagainya yang sebaiknya dihindari bumil dan busui.

    Ini juga penting untuk mengecek ulang klaim produsen. Sering denger kan, “sabun wangi/parfum/lotion dengan esens bunga mawar atau mutiara blablabla”?

    Nah coba deh cek daftar kandungannya, kalo iya mengandung ‘esens alami mawar’, itu zat nongolnya di deretan paling depan atau paling bontot, hehehe. Kalo paling depan atau deretan awal, ya minimal klaimnya bahwa “PASTI MENGANDUNG ESENS MAWAR ALAMI!” ya Insya Allah bener. Kalo paling bontot… Yaaa, kasarnya lebih banyak beli aer dikasih gliserin sama esens mawar barang setitik, hehe.

    Untuk foto di atas itu sebenernya saya agak lega, hahaha. Klaim sheetmask di yang saya tunjukkan di atas adalah “mengandung zat alami aloe vera” (alias lidah buaya). Setelah air dan beberapa zat pengental, muncul aloe barbadensis leaf juice — alias sari lidah buaya. Jadi ya jujur lah yaa, hahaha.

    Kadang ya dari daftar kandungan kita juga jadi ngeh zat aktif atau zat alami apa aja yang ditambahkan (contoh di atas, ada grapefruit dan ginkgo biloba). Dari situ kita bisa cek kalau-kalau kita ada alergi dengan zat tertentu, sehingga kita bisa menghindari suatu produk daripada kenapa-kenapa.

    Kedua, kenali sifat dari bahan-bahannya. Ini sedikit belajar kimia ya. Saya sendiri bukan ahli kimia dan bukan peneliti di industri make-up. Nyuwun untuk teman-teman yang lebih paham kimia untuk menambahkan, mengurangi, ataupun mengoreksi saya di sini.

    Secara dasar, apapun yang pake “-ol” itu biasanya masih sodaraan dengan alkohol. Ethanol, phenoxyethanol, dan lain-lainnya. Tapi jangan samakan “alkohol” di produk kecantikan dengan alkohol minuman atau alkohol 70% yang biasa dipake di RS. Alkohol di produk kecantikan biasanya berfungsi sebagai pelarut/solvent dan/atau antiseptik supaya produk kecantikan kita ga jamuran.

    Berikutnya, acid alias asam. Nah ini nih yang kemarin disebut-sebut: AHA dan BHA. Dan ini juga yang sering jadi kekhawatiran pengguna produk kecantikan. Apakah asam bagus untuk kulit? Terlalu keras nggak ya? Asam sulfat gimana? *woy*

    Secara umum, asam dianggap zat aktif — makanya untuk produk make-up yang eksfoliasi/exfoliating, AHA dan BHA sering banget dipake. Fungsinya adalah untuk merontokkan sel kulit mati di wajah supaya sel kulit baru bisa regenerasi. Nah, karena ini lah, sebaiknya kandungan asam/acid AHA dan BHA itu sebaiknya dihindari oleh bumil dan busui karena ditakutkan mempengaruhi si janin.

    Tapi ada juga kandungan sintetis/buatan yang juga banyak terdapat di alam, citric acid misalnya. Dari namanya aja udah ketauan — citric alias citrus — yaitu keluarga sitrus atau yang awamnya dikenal sebagai… Jeruk. Nah, citric acid ini dianggap nggak terlalu signifikan untuk sistem tubuh secara keseluruhan dalam konteks produk perawatan kulit, sehingga bisa dianggap aman.

    Selanjutnya, turunan dari amonia yaitu amine. Di contoh di atas itu disebut satu: triethanolamine.

    Waduh, turunan amonia bau dong? Wah saya kurang tau ya, hahaha. Tapi ya seharusnya nggak. Fungsi triethanolamine di produk kecantikan sendiri biasanya berfungsi sebagai pH-balancing.

    Nah, ada nih beberapa zat yang bunyinya kok “kimia banget” alias “bunyinya kaya laboratorium banget” (hahaha) padahal sebenernya sumbernya alami. Misalnya, glyceryl glucose. Padahal aslinya itu ya reaksi alami antara gliserol dengan glukosa dan awam terjadi di ganggang laut.

    Sekali lagi, nyuwun untuk teman-teman yang lebih paham kimia untuk menambahkan, mengurangi, ataupun mengoreksi saya di sini.

    Saya ngerti jipernya dan pusingnya baca kandungan zat produk. Lha kemarin saya sampe jereng mantengin kandungan produk perawatan kulit saya sampe tengah malem kok. Banyak istilah-istilah asing dan “aneh” buat kita, dan itu bikin kita takut atau panik. Wajar banget untuk khawatir, tapi Insya Allah, produk-produk yang dijual di supermarket, drugstore, dan toko kosmetik lainnya, selama sudah melewati kualifikasi FDA ataupun BPOM, Insya Allah aman untuk digunakan dan dikonsumsi.

    Kalau ragu, jangan malu bertanya atau konfirmasi ke pihak produsen dan tenaga medis atau ahli di sekitar kita.

    Sedikit cerita, waktu saya masih hamil Wira, saya parno (ya kapan sih saya nggak parno…) mengenai kandungan lotion yang saya pake. Kebetulan lotion yang saya pake itu merek SkinFood, sebuah perusahaan kecantikan Korea.

    Di websitenya, udah diklaim bahwa SkinFood menggunakan bahan baku alami dan organik, sehingga seharusnya aman. Tetapi ya… Tahu lah saya gimana kalo panik yaa.

    Jadi saya nelpon ke pihak SkinFood Indonesia. Saya lupa, itu ke kantor HQ atau ke cabang terbesar. Yang jelas, yang mengangkat telepon itu mbak-mbak staf SkinFood.

    Saya nanya dong, “mbak, saya mau nanya nih. Saya kan lagi hamil, terus saya pake produk SkinFood yang lini ini nih. Ini kan mengandung vitamin C karena sumbernya jeruk ya mbak; nah ini aman buat ibu hamil nggak ya mbak?”

    Mbak-mbak SkinFood — God bless her heart and the entire team of SkinFood Indonesia — mungkin belum pernah kali ya ditelepon mendadak sama mamak hamil recet kaya saya, jadi agak bingung juga jawabnya.

    “… Errr, yaaaa, Insya Allah sih aman ya bu ya.

    Soalnya SkinFood itu rata-rata bahan alami dan nggak pake pengawet berlebihan, apalagi kandungan yang berbahaya.

    Anu, nama produk kita itu emang SkinFood, bu.

    Tapi ya produknya jangan ibu makan.

    Itu maksudnya “makanan buat kulit”, bu.”

    #ngeeeeng

    YAKALI MBAK, SAYA NENGGAK LOTION KAYA MINUM COCA-COLA.

    Setelah itu sih jadi sedikit tenang ya, hahaha. Saya samperin tokonya lagi untuk rekonfirmasi kandungan (ya mengingat yang dicetak itu pake bahasa hangul kabeh jeh…) dan dibantuin Google Translate, akhirnya ya damai lah hati. Selese drama mamak parno babak sekian~

    Jadi konsumen yang cerdas, supaya kita semua juga Insya Allah selalu sehat ya.

Nindya’s quick blurbs

  • A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.

Latest snap