Kalo saya bilang ke diri saya sewaktu saya, hmmm, kuliah deh ya — iya, kalo saya bilang ke diri saya sewaktu saya kuliah bahwa saya nantinya akan menjadi ibu rumah tangga dan menikmati menjadi ibu rumah tangga, saya yakin diri saya yang masih kuliah itu pasti nganggep saya gila.

Saya? Jadi ibu rumah tangga? BORO-BORO. MASAK AJA MUSTI GOOGLE DULU. BEDAIN JAHE SAMA LENGKUAS AJA GA BISA, APA PULA ITU LENGKUAS.

Saya selalu berpikir bahwa saya akan menjadi wanita karir — untuk selamanya (?) Gimana ya, saya selalu ngeliat bahwa, “gw juga nanti paling kerja. Iya nikah, iya punya anak. Tapi ya iya, kerja juga.”

Nah, tapi ternyata… Kenyataan berkata lain, hahaha.

Ketika kami memutuskan pindah ke Kuala Lumpur, itu pun saya masih “berambisi”. Wah, bakal kuliah S3 di Malaysia nih! Wah, mungkin bisa jadi dosen paruh waktu juga ya!

Yakale… Lha di visa tertulisnya “not eligible for working” kok.

Kuliah lagi?

Heuhe.

Saya pernah nulis di sini kalo nyari ART di Malaysia itu sulit — mahal, tepatnya. Bayar agen aja sampe makan biaya 21 juta, belum termasuk gaji segala macem. Belum lagi urusan cocok nggak cocok (yak para boebooook mana suaranyaaaaaa nyari mbak ART itu lebih susah dari nyari jodoh yessss?)

Jadi ya, sudah lah nyari ART itu sulit, Wira juga masih di usia anak-anak.

Saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga 100%.

Apakah mudah?

Heuhe.

Saya pernah menangis di depan Ari karena saya benci setengah mati dengan tangan saya. Iya. Tangan saya bau bawang, kukunya kuning kena kunyit, rambut saya kumal, baju saya alakadarnya. Saya merasa super jelek, super ga gaul, super ga modis, super kumuh. Kalo ketemu temen-temen saya, saya suka ngumpetin tangan saya karena malu jari saya kekuningan karena kunyit. Saya nggak merasa bahwa ini diri saya.

Ada kali ya, setahun lebih saya mengalami transisi itu; dan itu transisi yang sama sekali nggak mudah. Rasa tertekan dan (semi?) depresi itu seperti monster yang tidur di dalam badan kita. Nggak bener-bener ilang, cuma tidur. Nyebelinnya, suka nongol pas lagi bengong. Pas lagi nyetrika baju, mendadak kaya ada bisikan di kepala, “ih, lu kuliah tinggi-tinggi sampe S2 lho Kap. Kok cuma berakhir di NYETRIKA BAJU? Ga malu sama ijazah?” atau pas lagi masak, kaya ada yang ketawa sambil nunjuk-nunjuk, “udalah jelek, nggak gaul, di rumah doang, nggak ada wawasan. Mau jadi apa kamu?”

Bisa lepas nggak sih dari monster itu? Ya sebenernya bisa. Mungkin nggak yang sampe 100% lepas ya, saya juga kurang tau, tapi kalo ada support group yang saling menguatkan (di saya, grup WhatsAppa ibu-ibu gendeng bernama “#buibuksocmed”) itu menolong secara luar biasa. Saya melihat bahwa oh saya nggak sendirian toh. Oh, ternyata banyak wanita di luar sana yang mempunyai kekhawatiran yang sama dengan saya toh. Oh, ternyata kita masih bisa berkarya dan mempunyai wawasan kok walopun kita ibu rumah tangga. Oh, saya masih bisa menjadi diri saya sendiri.

Saya senang, karena walaupun saya memang mempunyai label sebagai “istrinya Ari Firmansyah” dan “ibunya Wira Wisnu Nugraha” (dan Insya Allah, “ibunya Rey Sarasvati Putri”), saya tetap dengan bangga menempelkan label di jidat saya sebagai “Retno Nindya Prastiwi”. Alhamdulillah, saya juga didukung oleh keluarga yang luar biasa. Ari setiap akhir pekan ‘mengambil alih’ Wira dengan bermain bersama sehingga saya masih bisa menjalankan hobi saya yaitu menggambar atau sekedar beristirahat. Ari juga nggak pernah protes kalo saya mulai beli-beli komik (hahaha) karena ya dia tau kalo itu bikin istrinya waras, bikin istrinya hepi, bikin istrinya recharge batere lagi.

Jadi sekarang gimana sebagai ibu rumah tangga? Hahaha, cukup bangga lho, bisa masak sayur asem khas Betawi dan dipuji suami sendiri yang orang Betawi totok. Jari kekuningan karena kunyit, Insya Allah sudah biasa. Malah artinya lagi masak ayam ungkep atau ayam woku, hihi.

Dan yang penting, Insya Allah, saya bisa menjalaninya.

Tentu aja ada rasa bosan sesekali, “ADOH INI BISA GA YA BAK CUCI PIRING KOSONG BARANG LIMA MENIT DOANG” atau “… INI KENAPA ADA PIRING DI KARPET BISA KESANDUNG INI. WIRAAAAAAAAAA!”, tapi ya… Saya tau bahwa saya selalu ada masa untuk istirahat sejenak.

Kuncinya, untuk saya, itu satu: Jangan pernah kita meminta seluruh dan seisi dunia dari sang ibu, tapi di saat yang bersamaan merenggut dunianya darinya.

Jangan lah kita, apalagi kalo keluarga sendiri ya, meminta macem-macem ga karuan ga puguh dari seorang wanita bahwa dia harus ina inu ina inu plus label-labelnya sebagai “ibu” atau “istri” tapi di saat yang sama kita nggak memberikan hak kepadanya untuk menjadi dirinya sendiri.

One response to “Menjadi Ibu (Rumah Tangga)”

  1. UWAAAAA INI JUARA! Apalagi kalimat terakhir. Love! :’)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: