• ELIZABETH SAYS “NO”, COLLINS. WHICH PART OF “NO” YOU DON’T UNDERSTAND YOU DIM CABBAGE HEAD. YET YOU HAVE THE WIT TO THINK THAT IT’S “ELEGANT FEMALES” WAY TO “INCREASE THE LOVE AND ADMIRATION” OF GENTLEMEN. NO MEANS NO. OH MY GOODNESS.

    #kapkapcommentary

    “Your mother will not speak to you if you don’t marrying Mr. Collins.

    I will not speak to you if you do.”

    YAAAAS MR. BENNET. YAAAAAAAASSSSSSSSS.

    #kapkapcommentary

    Loooove Keira Knightley. She always have that twinkle in her eyes and that goofy yet mischievous wide grin. Suka liatnya ?

    #kapkapcommentary

    “I love you.

    Most ardently.”

    And now it’s time for us girls to shriek and fangirling mode.

    ?????

    TAPI PERLU YA BAWA-BAWA STATUS KELUARGA HAH DARCY?

    #kapkapcommentary

    Anjaaaay lu ngehina-hina sekeluarga plus kekurangan harta keluarga tersebut terus masih nyoba ngelamar si gadis?? =)))

    #kapkapcommentary

    AAAAW GEORGIANA IS SOOOOOOO CUUTTTEEEEEE

    THAT’S A WINGLADY FOR YOU, DARCY

    #kapkapcommentary

    Is it okay if I just punch Mrs. Bennet on her face? ? EVEN NO THANK-YOU TO MR. GARDINER.

    #kapkapcommentary

    OK. Darcy might not really far off on his opinions about the Bennets.

    Itu adek-adeknya Lizzie sama ibunya mengsle semua itu kayanya ?

    #kapkapcommentary

    “Yes. A thousand times, yes.”

    SAAAAAAAH

    #eh

    #salahya

    #kapkapcommentary

    “You must know. Surely you must know. It’s all for you.”

    Aaaaaw.

    Sekarang cuma bisa berharap kalo Darcy ngomelin tantenya abis-abisan.

    #kapkapcommentary

    “Mrs. Darcy.”

    That’s it. Now I can die happily.

    #kapkapcommentary

  • Praktis

    Kapan hari saya dan Ari sedang menonton TV. Acara TV saat itu membahas tentang acara jalan-jalan dan kuliner di Jepang, terutamanya di Tokyo.

    Salah satu tempat tujuan mereka itu di sebuah restoran ramen (mie) — si pengunjung bisa memesan ramen melalui vending machine, membawa selembar kertas untuk konfirmasi pesanan, diberikan ke pelayan, dan pelayan tinggal datang membawa ramen yang dipesan. Tempatnya sendiri terdiri dari kubikel-kubikel kecil (seperti di kantor) yang hanya bisa muat untuk satu orang. Selain itu, si pembawa acara juga ditunjukkan beberapa vending machine yang menjual berbagai macam produk dari makanan sampai pakaian dalam (untuk orang-orang yang terpaksa menginap di capsule hotel karena tidak sempat mengejar kereta terakhir di malam hari). Salah satu bintang tamu yang merupakan orang Inggris yang tinggal dan bekerja di Jepang berkata bahwa efisiensi dan kepraktisan sangat dijunjung tinggi di Jepang.

    Sepintas, rasanya memang canggih ya. Serba praktis, apa-apa bisa dibeli tanpa harus masuk ke toko dan antri membayar. Tinggal datang, pesan, lalu mendapatkan barang yang diminta — tanpa harus bertemu muka dengan orang lain.

    “… Tapi kok rasanya ga ada interaksi manusianya ya,” komentar Ari.

    Saya setuju.

    Rasanya… Gimana ya. Dingin? Bertemu muka aja nggak, apalagi ngobrol. Sedangkan kalo kita di kampung-kampung masih bertemu orang saat jajan ke warung, bahkan sampe ngobrol dengan ibu atau bapak penjual di warung. Dengan kepraktisan dan teknologi modern, kadang malah jadi alasan manusia untuk ga berkomunikasi.

    Memang sih, enak dan mudah. Modern sekali, malah. Gampang banget kan, kalo haus bisa beli di vending machine yang beroperasi 24 jam. Kalo mau beli makanan tinggal ngasih slip kertas yang berisikan konfirmasi lalu pesanan makanan langsung datang.

    Tapi kita juga jangan lupa dengan warung-warung kecil atau toko-toko kelontong yang setiap saat bisa kita sapa dan ngobrol dengan si bapak atau ibu penjual ?

  • Digital Kidnapping

    Kapan kamu tahu bahwa kamu sudah tua?

    Saat kamu ngebatin, “duh, sadis amat ya…” saat menonton trailer film Deadpool (2016) di Youtube. Soalnya udah terbiasa nonton Disney Junior.

    Omong-omong, semalam saya sempat membaca artikel mengenai digital kidnapping. Digital kidnapping adalah menggunakan foto bayi/anak orang lain yang diakui sebagai anak sendiri — jadi si anak masih bersama orangtuanya, tapi foto anak tersebut bisa jadi ada di akun Instagram atau FB orang lain dan dibilang “itu anak saya!” (link: http://www.digitaltrends.com/mobile/baby-role-play-virtual-kidnapping/)

    Jadi ya tentu saja saya ngeri sendiri ya. Saya sendiri lumayan membatasi untuk foto anak di akun social media saya — kalau di akun yang terbuka untuk publik, foto anak saya biasanya dari belakang atau tidak tampak jelas mukanya — tapi itu juga saya ngerasa bahwa saya masih keterlaluan bebasnya.

    Dan beberapa hari ini saya melihat beberapa teman saya di FB memasang foto anak mereka sedang mandi ataupun dalam keadaan telanjang.

    … Saya kok jengah ya? ?

    Usil, memang. Tapi saya yang risi dan khawatir jadinya. Bagaimana kalau foto-foto anak-anak itu dilihat oleh pedofil? Kebayang nggak sih, para pedofil itu kaya gimana sama foto-foto anak-anak, apalagi kalau yang setengah telanjang atau benar-benar telanjang?

    Pernah sih, saya tanya, “mbak, gapapa itu foto anaknya yang lucu sedang telanjang gitu ditaro di FB?”

    Dijawabnya sih, “gapapa laaaah. Temen-temen gue ini doang yang liat kok. Kaya bakal nyebar gimana…”

    … … … ?

    Ya… Ya gimana ya.

    Ya namanya juga menjaga anak-anak, itu “lahan kekuasaan” orangtua.

    Not only did the individual claim that she was the mother of the child (and renamed him), but she’d also added some truly alarming captions, like “Someone kidnapped Liam, they have him tied up in their car.” Dana continued, “Other role-play accounts would jump in with comments like ‘I found the car, I’m following them.’”

    Sejauh ini untuk saran-saran yang saya lihat mengenai pencegahan digital kidnapping adalah mengatur setting akun social media menjadi “private” atau menambahkan watermark. Agak repot, memang, dan set akun private belum tentu cocok untuk semua orang. Yang bisa dilakukan saat ini adalah memang pinter-pinternya ambil angle foto anak supaya wajahnya nggak terlalu terlihat. Atau memang menahan diri untuk nggak sering memasang foto anak di akun social media publik.

  • Non-aktif

    IMG_4477.JPG

    Jadi saya baru saja deactivate akun Twitter saya. Insya Allah setelah 30 hari, akun Twitter saya akan terhapus oleh sistem.

    Ada yang nanya ke saya, “kenapa?”

    Padahal udah jadi pengguna Twitter sejak 2007.

    Ketemu banyak temen baik di Twitter.

    Bahkan ketemu pacar yang akhirnya jadi suami juga di Twitter (hahaha)

    Ya itu dulu. Sekarang… Udah jarang juga sih saya ngecek Twitter. Udah jarang komunikasi juga sama temen-temen lewat Twitter.

    Jadi komunikasi lewat apa? Instagram. Tumblr. Path. Snapchat.

    Sempet kepikiran, “bikin akun baru ga ya?” Terus tanya balik, “buat apa?”

    Berbagi informasi atau link? Ada socmed yang lain. Ada blog ini.

    Jadi karena saya ga ngerasa ada urgensi atau kebutuhan mempunyai Twitter, jadi saya memutuskan untuk menghapus akun saya itu ?

  • The “Mom Body” is like Dad Bod, but so much stronger

    “I was weak, confused, awkward, sleep-deprived, and happy.”

    YES. YES TO ALL OF THIS. YES.

    “Did you cry when Wira was born?”

    No.

    In fact, I was confused and when the realization hit me I went, “… … There’s no way we can undo all of these, isn’t it?”

    So, yeah. Here’s to all the confused new parents with their newborn.

  • Next project: Intermediate Theme Developer

    I want to develop themes that sing praises for the 2000s. I always feel we could have a bit more 2000s-era whimsy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com
Status Cafe Profile
  • This week’s photodump (Java Jazz Festival 2026)
  • Entering the Months of Glorious Sunsets
  • April in pictures
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer